Menakar Ulang Ke-Bhinekaan Di Sekolah Kita

KebhinekaanMasih seringnya dijumpai siswa-siswa yang galau dibeberapa sekolah disaat-saat menjelang evaluasi akademik tentu merupakan kondisi psikologi yang wajar. Akan tetapi apabila hal ini lebih disebabkan tuntutan menghafal materi yang telah diajarkan guru, tentu perlu dipertanyaan. Seorang siswa tentunya belajar dari evaluasi belajar yang sudah-sudah, apabila guru selalu mengacu pada catatan materi yang telah diberikan tentu tidak ada pilihan lagi bagi siswa kecuali menghafal materi yang ada.

Untuk mendapatkan nilai yang baik menghafal puluhan kalimat dan catatan penting menjadi jalan terbaik, meski ditengah jadwal evaluasi yang terkadang tidak hanya satu kali. Terlebih orang tua mereka pun hanya menuntut nilai yang tinggi, tanpa mau mengerti bagaimana anak-anak mereka mendapatkan nilai tersebut.

Kondisi ini sungguh sebuah ironi disaat pendidikan kita tengah berbenah untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kemandirian menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Perilaku pembelajaran menjadi terjebak pada orientasi yang lebih mengedepankan pengetahuan. Interaksi sosial yang ada disekolah pun menjadi lebih pada benar dan salah. Interaksi yang kaku antara guru dan siswa. Membentuk siswa menjadi pribadi pasif yang harus menurut pada apa yang dianggap guru sebagai hal yang benar. Pada gilirannya inilah yang menjadi penyebab masing “langgeng”nya pola pembelajaran hafalan, yang tentu salah satunya disebabkan belum terbiasanya guru menerima jawaban berbeda dari apa yang diajarkan.

Menerima perbedaan sungguh amatlah sulit terlebih jika tidak dimulai dari sebuah kebiasaan. Terlebih hal ini turut memberikan kemampuan pada seseorang untuk mampu beradaptasi dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Salah satu kecakapan hidup yang seharusnya juga diajarkan guru disekolah pada muridnya. Kemampuan menerima perbedaan perlu diajarkan sebagai sebuah kecerdasan yang harus dikuasai dan diasah oleh setiap siswa. Sebab keberagaman adalah keniscayaan yang setiap siswa pasti akan hidup didalamnya. Prinsip ke-bhinekaan bangsa ini, tuntutan dunial global dan hakekat manusia sebagai makhluk sosial, menjadi dasar pentingnya membelajarkan siswa untuk menerima perbedaan. Dan pembelajaran menerima perbedaan itu pertama kali dimulai dari para guru.

Untuk belajar menerima perbedaan, para guru perlu menempatkan kemampuan ini sebagai komponen kecerdasan sosial atau kompetensi sosial. Kecerdasan atau kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, membangun relasi dan kerjasama, menerima perbedaan, memikul tanggung jawab, menghargai hak orang lain, serta kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Kemampuan membangun relasi meliputi kepandaian bergaul, membina persahabatan, hubungan kerja atau jaringan bisnis.

Membelajarkan kecerdasan sosial

Kecerdasan sosial (social intelligence) berkaitan erat dengan kecerdasan bahasa (language intelegence) dan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Sebagai salah satu dari sembilan kecerdasan majemuk yang diidentifikasikan oleh ahli psikologi sosial, Prof. Howard Gardner (1986). Yang menurut pakar psikologi sosial Thomas Amstrong (1986), dalam perkembangannya akan bekerja secara bersinergi dan serentak ketika seseorang berinteraksi orang lain. Oleh sebab itu untuk membelajarkannya disekolah seorang guru perlu mengintegrasikan kecerdasan ini dalam pembelajaran di kelas.

Yang harus diyakini para guru adalah setiap manusia memiliki potensi kecerdasan sosial. Secara naluriah, setiap manusia memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya.Pada suatu kegiatan pembelajaran, seorang anak berkata kepada guru, “Bu guru, saya tidak memahami bagian ini ….” Guru itu tidak serta merta memberikan penjelasan kepada anak itu, melainkan berkata kepada anak-anak lainnya, Anak-anak, teman kalian ini mengalami kesulitan memahami materi. Ada yang bersedia membantu? Pada kesempatan lain, guru itu juga berkata “Anak-anak sekalian. Faiz, teman kalian, hari ini tidak masuk karena sakit. Yuk, kita doakan bersama-sama. Dua ilustrasi itu secara sederhana menggambarkan bagaimana guru membudayakan kesadaran pada diri anak untuk berempati dan peduli pada kesulitan orang lain. Kesadaran demikian merupakan indikator kecerdasan sosial yang sangat penting dimiliki anak.

Bagi guru dan orang tua kecerdasan sosial dapat diasah dengan merubah persepsi awal terhadap kecerdasan. Persepsi yang harus diubah adalah bahwa kecerdasan sosial tidak kalah penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Banyak guru dan orang tua yang sangat senang apabila anaknya mendapat nilai yang selalu bagus di sekolahnya. Hal tersebut memang benar, namun tidak seutuhnya benar. Sebab menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman (1995 dan 1998) menunjukkan bahwa kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual memberikan kontribusi sebesar 80% terhadap tingkat kesuksesan seseorang, sedangkan kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi sebesar 20%.

Karl Albrecht dalam “The New Science of Success”, menyebutkan bahwa kecerdasan sosial terdiri dari  lima komponen ketrampilan yang disingkat dengan kata ˜SPACE”, yaitu : (1) Situational Awareness (kesadaran situasional).The ability to read situations and to interpret the behaviours of people in those situations. Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kemampuan untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Seseorang yang merokok di tempat umum dan menghembuskan asapnya secara sembarangan menunjukkan bahwa dia memiliki situational awareness  yang rendah. (2) Presence (kemampuan membawa diri) Also known simplistically as bearing, is the impression, or total message you send to others with your behavior. People tend to make inferences about your character, your competence and your sense of yourself based on the behaviors they observe as part of your total presence dimension. Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda berikan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan, adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Kita akan lebih mudah mengingat orang lain yang memiliki kualitas presence yang paling baik dan yang paling buruk.(3) Authenticity (keaslian) Authenticity is the extent to which others perceive you as acting from honest, ethical motives, and the extent to which they sense that your behavior is congruent with your personal values i.e. playing straight.Authenticity atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya, jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini sangat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan jejak relasi yang mulia nan bermartabat. Orang lain akan lebih memercayai kita, apabila kita tulus dalam segala perbuatan, dan juga apabila kita berlaku apa adanya, tidak dibuat-buat.(4) Clarity (kejelasan)Clarity is the ability to express ideas clearly, effectively and with impact. It involves a range of communicating skills such as listening, feedback, paraphrasing, semantic flexibility, skillful use of language, skill in using metaphors and figures of speech, and the ability to explain things clearly and concisely Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara baik dan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Sering kali kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara baik sehingga atasan atau rekan kerja kita tidak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan baik apabila kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan. Seseorang yang memberikan pendapatnya dengan gugup dan tidak jelas, sekalipun gagasan itu bagus, tetap saja para pendengar akan merasa tidak yakin terhadap gagasan tersebut.(5) Emphaty (empati)Emphaty is the skill of building connections with people the capacity to get people to meet you on a personal level of respect and willingness to cooperate. Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang baik kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat  terhadap sesama rekan kita.

Urgensi Kecerdasan Sosial

Coba anda perhatikan siswa lulusan hari ini, banyak dipihak tentu dapat memberikan penilaian yang sama bahwa mereka semakin individual dan semakin abai dengan lingkungannya. Hasil penelitian senada terhadap 95 Mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun mereka memiliki sifat egois, angkuh, atau tampak kurang dalam pergaulan, ternyata hidup mereka tidak terlalu sukses (berdasarkan gaji, produktivitas, dan status bidang kerja) bila dibandingkan dengan mereka yang kecerdasan intelektualnya biasa saja, tetapi supel dalam pergaulan, mempunyai banyak teman, bisa berempati, pandai berkomunikasi, dan tidak temperamental.

Terkait dengan hasil penelitian tersebut, kita juga sering menyaksikan dalam lingkungan tempat tinggal kita. Tidak jarang seseorang yang kita pandang mempunyai kecerdasan lebih di kampusnya, ketika diminta pendapatnya dalam sebuah musyawarah mengenai suatu masalah yang terjadi, tampak dia kesulitan sekali menyampaikan pendapatnya secara runtut dan baik. Hal ini bisa terjadi bukan karena orang tersebut tidak mempunyai kecerdasan intelektual yang baik, namun kecerdasan sosialnya kurang dikembangkan dengan baik sehingga ia mengalami kegagapan ketika dihadapkan pada masalah yang sebenarnya dalam lingkungan sosial.

Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan, namun kecerdasan sosial juga tidak boleh diabaikan. Karena kecenderungan masyarakat modern, seringkali bersitegang dengan waktu karena adanya target atau bahkan ambisi disegala bidang, baik kebutuhan terhadap pemenuhan materi sekaligus gengsi yang semakin menguat akan membuat kehangatan hubungan sosial semakin berkurang. Hal inilah menjadi penting dikembangkan sehingga anak kita dikemudian hari memiliki hubungan sosial yang baik. Tidaklah cukup apabila orang tua mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang cerdas, sehat, bermoral, berbudi luhur, ceria, mandiri dan kreatif hanya menyerahkan kepada sekolah saja. Anak membutuhkan kesempatan lebih luas, seperti bersosialisasi dan mendapatkan kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatif salah satunya dengan peningkatan kecerdasan sosial anak.

Kekerasan dalam rumah tangga, tawuran antarkampung, perkelahian antarpelajar atau mahasiswa, bentrok antarkelompok politik, etnik, atau agama makin sering menghiasi media.

Serentetan peristiwa tersebut menjadi bukti, bahwa tindakan brutal sering dijadikan alternatif untuk memecahkan masalah. Seakan tidak ada upaya yang lebih manusiawi, santun, dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan untuk menyelesaikan problem yang terjadi. Mengapa kecenderungan seperti ini begitu marak? Salah satu variabel penyebab anak bangsa ini menggunakan cara anarkis guna menyelesaikan berbagai persoalan atau mencapai tujuan adalah tumpulnya kecerdasan sosial.

Hal yang menyebabkan kecerdasan sosial tumpul dilatarbelakangi oleh  proses pendidikan di keluarga maupun masyarakat mengalami salah arah. Penanaman nilai-nilai pendidikan di keluarga, acapkali hanya mengejar status dan materi. Orang tua mengajarkan pada anaknya bahwa keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh pangkat atau kekayaaan yang dimilikinya. Masyarakat juga begitu, mendidik orang semata mengejar tahta dan harta.  Proses ini tampak pada masyarakat yang lebih menghargai orang dari  jabatan dan kekayaan yang digenggamnya. Kondisi ini membuat orang terobsesi untuk memperoleh kedudukan tinggi dan kekayaan yang berbuncah-buncah agar terpandang di masyarakat. Untuk mengejar ambisi tersebut orang kadang menanggalkan etika dan moral, bahwa cara yang ditempuh untuk mewujudkan impiannya itu bisa menyengsarakan orang lain.

Akibat yang ditimbulkan dari kecerdasan sosial yang tidak terasah  pada individu adalah memberi kontribusi pada perilaku anarkis. Hal ini dikarenakan individu yang kecerdasan sosialnya rendah tidak akan mampu berbagi dengan orang lain dan ingin menang sendiri. Kalau dia gagal akan melakukan apa saja,  asal   tujuannya bisa tercapai, tak peduli tindakannya merusak lingkungan, dan tidak merasa yang dikerjakannya menginjak harkat dan martabat kemanusiaan. Sehingga diskripsi kepribadian seperti ini, berpotensi melakukan perilaku anarkis, ketika hasrat pribadinya tidak tercapai atau sedang menghadapi masalah dengan orang atau kelompok lain.

Betapa pentingnya peranan kecerdasan sosial untuk mencegah perilaku anarkis, maka perlu dicari solusi untuk mengembangkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial menjadi solusi efektif meredam anarkis, karena orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi, mempunyai seperangkat keterampilan psikologis untuk memecahkan masalah dengan santun dan damai.

Sumber gambar: http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/

Pendidikan Ekonomi, Habit Of Mind dan Dominasi Pendidikan Sains

habit of mindPengetahuan berupa konsep sangat berguna bagi siswa terutama bagi siswa yang melanjutkan tingkat yang lebih tinggi. Tetapi pengetahuan berupa konsep tidak akan cukup untuk menjadi bekal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, sehingga harus ada kemampuan yang diperoleh siswa untuk bekal menuju dunia kerja (bagi yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi). Namun perkembangan era globalisasi yang disertai banyak permasalahan kompleks, menyebabkan kebanyakan orang tidak memanfaatkan kebiasaan berpikir produktif dan cerdas untuk memecahkan permasalahan tersebut. Hal ini menyebabkan kebiasaan mental habits of mind jarang digunakan, misalnya sedikit sekali orang yang selalu merencanakan dan mengelola segala sesuatu dengan baik, sedikit sekali orang yang selalu mencari kejelasan dan mencari akurasi, dan sangat sedikit orang berani mengambil resiko dalam pekerjaannya dan kebanyakan orang bekerja di daerah aman (Sriyati, 2011).

Padahal Sizer dan Sizer (1999) mengatakan bahwa tujuan pendidikan selain untuk mempersiapkan manusia untuk masuk ke dalam dunia kerja, adalah membuat manusia dapat berpikir secara menyeluruh serta menjadi manusia yang bijak (thoughtful and decent human being). Hal ini tentu menjadi penting terlebih, pergeseran ekonomi industri menjadi ekonomi berbasiskan modal manusia (economic based economy) yang berimplikasi pada kemampuan mengelola informasi guna membuat keputusan. Dalam hal ini, informasi memainkan peranan penting untuk membuat pertimbangan yang cerdas guna memuaskan kebutuhannya. Selain itu, untuk mengolah informasi yang begitu banyak dan cepat dibutuhkan pemahaman terkait dasar-dasar pembuatan keputusan ekonomi yang cerdas. Tentu hal tersebut tidak akan mungkin dihasilkan kecuali melalui kebiasaan berfikir (habits of mind).

Marzano (1994) yang diperkuat oleh Rustaman (2008) mengemukakan bahwa kebiasaan berpikir (habits of mind) sebagai salah satu dimensi hasil belajar jangka panjang (learning outcomes). Habits of mind yang dikembangkan oleh Marzano (1993) meliputi sikap dan persepsi terhadap belajar (dimensi 1), memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan (dimensi 2), memperluas dan menghaluskan pengetahuan (dimensi 3), menggunakan pengetahuan secara bermakna (dimensi 4) dan memanfaatkan kebiasaan berpikir produktif (dimensi 5). Beberapa ahli pendidikan (Ennis, 1987; Paul, 1990; Costa, 1991; Perkins, 1984; Flavell, 1976; Zimmerman, 1990; Amabile, 1983 yang diperkuat oleh Marzano et al.,1993) menempatkan kebiasaan berpikir ke dalam tiga kategori yaitu self-regulation, critical thinking dan creative thinking.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan mental habits of mind dapat diperkenalkan, dibentuk, digali, dilatih, dikembangkan, dan diperkuat menjadi lebih baik melalu berbagai strategi. Sidharta (2005) mengungkapkan bahwa keterampilan berpikir dapat dilatihkan guru kepada siswa melalui skenario pembelajaran tertentu, yaitu dengan memberikan materi yang tidak terlalu banyak tetapi mendalam, karena tujuan belajar bukanlah mengakumulasikan dari berbagai fakta tetapi kemampuan untuk menggunakan sejumlah kecil pengetahuan dasar untuk memprediksi atau menjelaskan beragam fenomena sehingga siswa mendapatkan manfaat dari sedikit pengetahuan yang diingat dan dipahami. Pembelajaran yang mengembangkan habits of mind dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang lebih baik dalam diri siswa (Risnosanti, 2011).

Penelitian Anwar (2005) dan Sriyati (2011) menunjukkan bahwa pembentukan dan peningkatan habits of mind dapat meningkatkan hasil belajar, membentuk karakter yang lebih baik dan menimbulkan kepedulian mahasiswa. Cheung dan Hew (2008), menyatakan bahwa self-regulation dan bersifat terbuka merupakan bagian dari indikator habits of mind yang dapat digali melalui partisipasi. Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas, diketahui bahwa kebiasaan mental habits of mind memiliki indikator yang beririsan dengan pendidikan karakter yang diberlakukan pada kurikulum saat ini. Pembentukan dan pengembangan habits of mind siswa melalui pembelajaran, sama halnya seperti ungkapan sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, artinya guru tidak hanya melatihkan kebiasaan berpikir cerdas (habits of mind) melalui pembelajaran, tetapi sekaligus mendidik siswa menjadi pribadi dengan karakter positif yang unggul, dapat meregulasi diri, peduli, tekun, jujur, ingin tahu, kritis, kreatif, bekerja sama, dan sebagainya.

Seiring keberadaan habits of mind, maka penguasaan konsep materi hanya merupakan dampak ikutan (nurturant effect) dari proses belajar yang dilaksanakan oleh guru (Zainul, 2008: Race, 2011). Riset-riset terbaru menunjukkan, betapa banyak cara kita belajar sudah harus diubah. David Coyle dalam buku The Talent Code (2010) menunjukkan kemajuan yang dicapai dalam neuroscience yang menemukan bahwa manusia cerdas tidak hanya dibentuk oleh memori otak, tetapi juga memori otot (myelin). Ditunjukkan bahwa memori (daya ingat) kita bukan cuma “tape recorder”, perekam data saja, tapi ternyata benda hidup (living structure) suatu benda hidup yang punya kemampuan dalam ukuran luar biasa (nearly infinitive size of scaffold). Benda yang makin banyak difungsikan untuk berpikir, makin terlatih dia untuk menghadapi dan memecahkan kesulitan dan tantangan yang ada, dan makin banyak memori yang kita bisa bangun dan simpan. Sementara Carol Dweck dan Lisa Blackwell (2011) menemukan bahwa anak-anak yang secara akademik dianggap cerdas berpotensi menyandang mindsettetap sehingga kecakapannya untuk berkembang menjadi terhambat. Sehingga dalam hal ini, kebiasaan berfikir berperan dalam meningkatkan kemampuan penguasan konsep materi yang kita miliki.

Dalam konteks pendidikan ekonomi penguasaan konsep materi ekonomi berkaitan dengan pengembangan economic literacy Economic literacy atau yang lebih kita kenal dengan istilah “melek ekonomi”, mulai dianggap penting sejak akhir  tahun 1990. Bahkan, di negara-negara maju dan berkembang economic literacy dianggap sangat penting untuk diketahui oleh warga negaranya. Pengetahuan tentang economic literacy disejajarkan dengan pentingnya “melek huruf” dan “melek teknologi”. Hal ini dilatarbelakangi adanya asumsi bahwa semua aspek kehidupan banyak berhubungan dengan masalah ekonomi.

Economic literacy atau juga disebut dengan melek ekonomi  merupakan pengetahuan tentang ekonomi yang hal ini sangat diperlukan karena setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari masalah ekonomi. Masalah utama di dalam ekonomi adalah masalah kelangkaan atau scarcity sehingga masyarakat harus memiliki cara untuk menentukan komoditi apa yang akan dibuat, bagaimana komoditi itu di buat dan untuk siapa komoditi itu dibuat. Sehingga dalam hal ini masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat. Jika masyarakat telah melek ekonomi maka diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat baik sebagai konumen, produsen, investor dan warga negara (Caplan, 2004)

Sehingga pada gilirannya, pengembangan habits of mind dan penguasaan konsep materi ekonomi berkaitan dengan pengembangan literasi ekonomi. Hal ini dipertegas oleh Mathews (1999) bahwa literasi ekonomi sebagai kemampuan individu untuk mengenali dan menggunakan konsep-konsep ekonomi dan cara berpikir ekonomi untuk memperbaiki dan mendapatkan kesejahteraan. Makna kemampuan (ability) mengindikasikan bahwa pemahaman literasi ekonomi dihasilkan melalui proses belajar yang berkesinambungan. Sesuai dengan penjelasan diatas maka, literasi ekonomi berperan penting terhadap pembentukan habit on mindNamun sayangnya, perkembangan pendidikan ekonomi di Indonesia yang belum sedemikian dinamis dibandingkan negara-negara lain. Apakah ini bukti bawa pendidikan kita masih terlalu didominasi pemikiran sains sehingga cenderung diskriminatif terhadap perkembangan ilmu sosial lain, tidak terkecuali ekonomi.

Sumber gambar: http://www.habitsofmind.org/

Belajar Dari NU: Oligarki Politik & Peran Ormas Masa Depan

oligarkiDengan karyanya Reinventing Government (1992) David Osborne dan Ted Gaebler telah memberikan inspirasi, bahwa administrasi publik harus dapat beroperasi layaknya organisasi bisnis, efisien, efektif, dan menempatkan masyarakat sebagai stakeholder yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Dalam konsep good governance, “accountability is a key requirement of good governance” (UN, Economic and Social Commission for Asia and the Pacific, 2004). Richard C. Box, (1998) memberikan ruang yang lebih besar terhadap peran masyarakat sebagai warga negara. Dalam bingkai pemerintahan di Indonesia hal ini dapat ditelusuri dalam koridor UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Secara formal, undang-undang tersebut memberikan kerangka yang cukup ideal bagi terwujudnya keadaan politik lokal yang dinamis dan demokratis terhadap partisipasi masyarakat di setiap daerah.

Disisi lain terjadi penguatan media sebagai ekses dari globalisasi, dalam mempengaruhi hingga mampu menghegemoni dan membentuk kehendak umum dalam mengatasi persoalan sektoral. Apa yang terjadi di Mesir, Libya dan beberapa kawasan di Timur Tengah membuktikan hal tersebut. Kita menyaksikan betapa mobilisasi massa melalui opini media sosial yang dilakukan secara sistematis mampu melakukan perubahan kepemimpinan nasional. Di dalam negeri sendiri kita menyaksikan betapa media mampu menggerakkan kepedulian publik dalam kasus Prita atau Cicak Vs Buaya. Dalam hal ini, Gramsci berpendapat bahwa media memiliki peran sebagai alat hegemoni terhadap pembentukan kehendak umum. Persoalannya, hegemoni yang berlangsung saat ini apakah dilakukan melalui integritas ideologis.

Perkembangan selanjutnya, trend globalisasi sangat mempengaruhi proses-proses politik di seluruh negara di dunia, termasuk berpengaruh terhadap demokratisasi di Indonesia. Globalisasi bukan saja ditandai oleh ketergantungan antar negara dan terintegrasinya sistem-sistem ekonomi dan sosial, tetapi juga, dan lebih penting lagi, menimbulkan gejala-gejala baru berupa de-statisation dan de-nationalisation. Gejala-gejala itu ditandai oleh berkurangnya peran negara sebagai akibat liberalisasi pasar dan terbentuknya konfigurasi baru hubungan pemerintah pusat dan lokal. Lebih lanjut, globalisasi menyebabkan perubahan-perubahan politik secara mendasar, yaitu dengan bercampur-baurnya kepentingan dan kewenangan aktor-aktor negara, bisnis dan masyarakat sipil di tingkat global, nasional, regional dan lokal. Akibatnya, proses-proses politik demokratis, baik untuk merumuskan dan menjalankan kepentingan publik, hingga fungsi kontrol media dalam survei publik didominasi oleh aktivitas berorientasi ekonomi-pasar yang sangat dipengaruhi oleh kekuatan modal para aktor yang bermain di dalamnya. Yang terpinggirkan dari proses seperti itu adalah hak publik untuk berpartisipasi di dalam proses-proses perumusan kebijakan publik. Di Indonesia, studi yang dilakukan Demos pada 2003/2004 dan 2007 serta paparan Robison dan Vedi Hadiz (2004), misalnya, memperlihatkan demokratisasi politik yang cenderung oligarkis. Terjadi dominasi elit ditingkat lokal yang tidak memberikan kontribusi positif terhadap kalangan akar rumput (grass root).

Belajar dari NU

Dalam konteks Nahdhatul Ulama (NU), perkembangan politik demokratis tidak bisa dipisahkan dari pesantren sebagai entitas politik selain sebagai lembaga pendidikan yang merupakan basis gerakan NU. Persaingan para elit NU dalam memperebutkan kekuasaan baik pusat ataupun daerah, menunjukkan bahwa NU telah jauh masuk dalam pusaran liberalisasi politik. Elit NU yang memilih terjun dalam politik pragmatis ini membuat mereka terfragmentasi di partai politik. Perebutan akses politik ini jelas sarat kepentingan ekonomi pribadi ataupun golongan. Figur kiai yang biasanya disegani masyarakat NU juga masuk dalam pusaran politik pragmatis, terutama didaerah basis suara NU. Implikasinya terjadi delegitimasi peran kiai sebagai culture broker atau agent of change.

Menurunnya jumlah santri dibeberapa  pesantren yang kiainya berpolitik memberi bukti terjadinya delegitimasi tersebut. Saidin Ernas (2011) dalam studinya menyebutkan bahwa, banyak pesantren yang mengalami penurunan kualitas karena kiai atau pimpinan pesantrennya lebih sibuk berpolitik. Pesantren yang terlampau aktif dalam peran politiknya (political oriented) sangat mungkin akan ditinggal oleh santrinya. Sebab orang tua santri yang kritis akan lebih memilih pesantren yang lebih menjaga independensinya terhadap politik praktis. Pada titik ini, dapat disimak bahwa masyarakat yang sebelumnya sangat menghormati pesantren dan selalu mengikuti anjuran dan arahan pesantren mempunyai dasar untuk menentang legitimasi fatwa pesantren, khususnya dalam isu-isu sosial dan politik, terutama dalam kasus pemilu.

Lemahnya penegakan hukum, rendahnya komitmen pemerintah terhadap perlindungan kaum minoritas, persoalan kesejahteraan masyarakat, perilaku koruptif para birokrat hingga rendahnya empati sosial para wakil rakyat di senayan. Kondisi politik ini menurut Prof. Azumardi Azra telah menyebabkan terjadinya kelelahan politik (political fatique) yang berujung pada apatisme politik. Padahal baik di negara yang sudah mapan dengan demokrasi maupun yang masih dalam proses konsolidasi seperti Indonesia, apatisme politik jelas tidak menguntungkan. Dalam konteks Indonesia, apatisme politik dapat mengakibatkan kian terbengkalainya agenda-agenda konsolidasi demokrasi, seperti pemberdayaan pranata dan institusi demokrasi semacam partai politik, lembaga perwakilan rakyat (DPR); penciptaan good governance dan pemberantasan korupsi; penguatan kultur politik demokratis, civic culture (budaya kewargaan) dan civility (keadaban); serta penegakan hukum. Jika agenda-agenda ini telantar, bisa dipastikan konsolidasi demokrasi di negeri ini tidak bakal pernah berakhir. Sebaliknya, yang terus berlanjut adalah kerancuan, anomali, dan kekisruhan politik yang menghambat akselerasi Indonesia menjadi sebuah negara yang bermartabat dan disegani negara-negara lain.

Apatisme masyarakat terhadap politik secara struktural merupakan bagian dari alienasi politik. Alienasi politik seperti dijelaskan oleh Lane dalam bukunya, Political Ideology, memiliki definisi umum sebagai keterasingan orang terhadap pemerintah dan politik dalam masyarakatnya sehingga memunculkan penolakan terhadap kegagalan politik (Lane,1962). Masyarakat yang acuh tak acuh pada setiap agenda politik nasional maupun daerah dapat ditempatkan sebagai floating mass yang hanya diaktifkan dimasa pemilihan. Fakta ini terjadi manakala NU hanya dimanfaatkan menjadi pengumpul suara (vote gather) bukan sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun demokrasi yang lebih baik.

Pada sisi lain, di tengah wabah apatisme politik, bakal selalu ada orang yang sampai pada puncak frustrasinya dan akhirnya mengambil jalannya sendiri. Contoh paling akhir dari sikap ini adalah aksi aktor senior Pong Hardjatmo menaiki atap gedung DPR untuk menuliskan tiga kata, ”jujur, adil, tegas”, yang mengungkapkan kegusarannya pada situasi politik dan kepemimpinan yang tidak menentu. Hal yang sama terjadi dalam kasus konflik sosial, pertikaian antar suku/agama hingga tindak kekerasan ormas dan terorisme yang berkedok agama. Semua kondisi diatas membuktikan adanya kemacetan komunikasi politik seiring tidak terwakilinya aspirasi masyarakat oleh elit politik, meski sesuai mekanisme politik demokrasi masyarakat telah memilih para wakilnya melalui pemilu.

Agar komunikasi politik berjalan dengan baik maka keberadaan ormas menjadi penting sebagai perantara komunikasi politik. Sehingga sesuai platform dasar yang digariskan para pendirinya, semua ormas perlu berperan sebagai perantara komunikasi politik, sebuah peran yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai peran “opinion leader”. Untuk melaksanakan peran tersebut semua ormas perlu mendayagunakan tiga elemen dasar. Pertama, pembenahan fungsi kultur sosial (moralitas politik)  pesantren yang terdegradasi oleh perilaku para elitnya. Kedua mendayagunakan kelembagaan media sebagai ruang publik alternatif yang dapat menjadi kekuatan potensial. Ketiga, membangun kemandirian masyarakat tentang apa yang harus dilakukan untuk memungkinkan berlangsungnya fungsi pengendalian terhadap urusan-urusan publik dan kesetaraan warga negara dalam politik demokrasi yang dibangun.  Peran yang dimaksud merupakan upaya ntuk membangun budaya politik yang sehat dalam politik demokrasi Indonesia, pemerintahan yang benar-benar bertanggung jawab terhadap rakyat.

Manajemen Diri & Pencapaian Keberhasilan

Banyak pihak mengeluhkan lulusan PT yang berkualitas serba tanggung. Hal ini karena lulusan cenderung kurang tangguh, kurang jujur, mudah stress, rendahnya kemampuan berkomunikasi lisan, dan lain sebagainya. Bahkan berdasarkan data BPS menyatakan bahwa “ternyata lulusan dari perguruan tinggi cenderung kurang mandiri dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya persentase lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai karyawan (83%)”. Perlu dicermati, ketidakmandirian yang dimiliki tenaga kerja saat ini merupakan cerminan pola didikan dan cara belajar ketika masih dibangku kuliah. Ketidakmandirian belajar seorang mahasiswa adalah warisan dari cara belajar ketika masih berada di tingkat SLTA. Begitu pula, ketidakmandirian siswa-siswa di tingkat SLTA adalah produk dari cara belajar ketika masih belajar di tingkat sekolah yang lebih rendah dan seterusnya.

Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih “brangasan” dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif. Dan dari hasil penelitannya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is dumb, ketika orang cerdas jadi bodoh. Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya.

Daniel Coleman menyatakan bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan Intelektual atau intelektual Quotient (IQ), tetapi juga ditentukan oleh kecerdasan emosi atau emotion quotient (EQ) dan kecerdasaran spiritual atau spiritual quotient (SQ) . Bahkan kontribusi EQ dan SQ dalam menunjang keberhasilan seseorang jauh lebih besar dibanding IQ. Pandangan ini tentu merubah paradigm lama, yang menyatakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang pandai, yang selalu memperoleh rangking ketika sekolah, atau mahasiswa yang indek prestasinya tertinggi, yang ketika lulus kuliah memperoleh predikat cum laude. Menurut Ciputra mahasiswa yang pada saat kuliah memiliki IP tertinggi atau lulus dengan predikat cum laude, dengan nilai selalu A biasanya menjadi dosen. Mereka yang memiliki rangking kedua, dengan nilai rata-rata B pada umumnya menjadi birokrat, sedangkan mereka yang tidak mempunyai rangking, dan hanya dengan nilai C biasanya menjadi pengusaha. Dalam perjalanan selanjutnya, mereka yang menjadi pengusaha, biasanya yang lebih sukses, terutama dari aspek ekonomi dibanding dengan yang di birokrat maupun menjadi dosen.

Apa yang disampaikan oleh Ciputra sejalan dengan pendapat Coleman dan telah membuktikan bahwa yang menentukan keberhasilan hidup seseorang dalam bidang ekonomi, maupun dalam karir, bukan hanya kecerdasan Intelektual, tetapi ada kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Meskipun kecerdasan intelektual juga diperlukan, namun jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual hasilnya kurang optimal.

Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual ini sering disebut dengan soft skill yang disandingkan dengan kecerdasan intelektual yang sering disebut dengan hard skill. Kalau hard skill berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, analisis dan abstraksi, soft skil lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, membangun jaringan, kemampuan beradaptasi, dan bekerjasama dengan orang lain. Kontribusi soft skill terhadap keberhasilan seseorang dalam hidup tentu bukan hanya berdasarkan fakta yang telah terbukti, tetapi juga memiliki landasan sosiologis dan filosofis.

Secara filosofis, keberadaan manusia adalah keberadaan bersama, artinya manusia tidak bisa hidup secara sendirian. Aristoteles menyatakan bahwa you are older than me. Ini menunjukan bahwa engkau lebih dahulu dari aku, dalam arti ke-aku-an seseorang tidak akan ada artinya, tanpa ada orang lain (ENGKAU). Artinya, bahwa jika kita ingin menjadi manusia, keberadaan orang lain bisa diabaikan (living together). Hal ini bisa kita buktikan, ketika kita berada di kebun binatang sendirian, dihadapan para kera, dan kemudian kita mengatakan bahwa aku adalah orang yang baik, maka pernyataan tersebut tidak mempunyai makna apa-apa. Justru kalau ada orang lain yang tahu, mungkin kita dianggap orang gila. Pernyataan aku adalah orang yang baik itu baru akan bermakna, jika disampaikan dihadapan orang lain. Pernyataan seperti itupun masih membutuhkan pengakuan dari orang lain. Kalau orang lain tidak mau mengakui bahwa kita sebagai orang yang baik, maka yang pernyataan bahwa aku adalah orang baik akan sia-sia, karena nilai diri kita tergantung pada penilaian orang lain.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Heinemman bahwa adanya AKU karena ENGKAU, dalam arti bahwa ke-beradaan-ku sebagai manusia (baik atau buruk) tergantung bagaimana penilaian orang lain (ENGKAU). Aku hanya bisa mengkomunikasikan diriku lewat ucapan, sikap, perilaku, dan perbuatan kepada orang lain, dan orang lain akan memberi penilian apakah diriku orang baik atau buruk berdasarkan apa yang telah AKU kerjakan. Oleh karena itu, kehadiran orang lain sebagai subyek penilai, menjadi sangat penting, dan nilai diriku ditentukan oleh orang lain. Meskipun aku mengatakan bahwa diriku adalah orang baik, tetapi kalau orang lain (apalagi jumlahnyaa banyak) mengatakan bahwa aku adalah orang yang tidak baik, maka itulah nilai diriku.

Secara sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi tersebut terjadi dua bentuk hubungan yaitu kerjasama dan persaingan yang bisa mengarah kepada konflik. Dalam hubungan kerjasama akan menghasilkan pembagian tugas atau peran dalam mewujudkan tujuan bersama. Dalam kerjasama tersebut, masing-masing menjalankan tugas dan peran sesuai dengan yang telah disepakati. Keberhasilan dalam mencapai tujuan sangat tergantung dari masing-masing individu dalam menjalankan tugas dan peran yang diemban. Jika semua individu menjalankan tugas dan perannya dengan baik, maka tujuan bersama tersebut juga akan tercapai dengan baik. Namun jika ada individu yang tidak menjalankan tugas dan perannya dengan baik, maka tujuan bersama tidak akan tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, dalam kerjasama harus dibangun rasa tanggungjawab terhadap tugas, kebersamaan, sikap toleransi, dan saling tolong menolong, dan itu semua dibutuhkann komunikasi yang jelas dan sopan.

Dalam kehidupan sosial dan organisasi, keberhasilan seseorang tidak lepas dari dukungan orang lain. Orang lainlah yang akan mempromosikan atau mengangkat seseorang untuk menduduki suatu jabatan, sudah tentu setelah mereka memberi penilaian baik terhadap diri dan kinerja kita. Ini menunjukan bahwa soft skill mempenyai peran yang sangat besar dalam menunjang keberhasilan atau karir sesorang. Kegagalan dalam membangun hubungan baik dengan orang lain, mengakibatkan sulit mencari orang yang mau mendukung atau mempromosikan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi.

Kekuatan EQ dan SQ ini juga didukung oleh ajaran agama. Islam melalui hadist Rosulullah telah mengajarkan kepada umatnya untuk menjalin silaturahmi dan bekerja dengan iklhas dan lillahhitha’allah. Dalam Islam dikatakan bahwa silaturahmi akan menambah rejeki. Persoalannya sebagian masyarakat kita memahaminya dengan sangat sederhana, yaitu pada saat bersilaturahmi (berkunjung ke tempat teman) dengan memabawa oleh-oleh, sehinngga rejekinya langsung sebatas oleh-oleh yang dibawa. Padahal dengan bersilaturahmi akan semakin memperkuatan hubungan persabatan, dengan mengingat kembali kebaikan-kebaikan masing-masinng, sehingga pada saat mereka memiliki pekerjaan (misal proyek) maka yang akan segera diingat adalah teman yang baik. Begitu juga orang yang bekerja dengan ikhlas dan lillahhita’allah, tentu hasil pekerjaannya akan baik. Dengan demikian nilainya juga akan lebih tinggi dibanding dengan orang yang bekerja tidak dilandasi oleh keikhlasan dan niat hanya karena Allah. Dan ketika orang bekerja dengan baik, maka juga akan banyak orang yang senang, shingga akan mudah mencari pekerjaan.

Dalam interaksi sosial, meskipun tidak mutlak benar berlaku suatu “hukum” bahwa semakin baik sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, orang lainpun juga akan baik terhadap kita, begitu sebaliknya, semakin buruk sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, orang lainpun juga tidak akan bersikap dan berperilaku baik terhadap kita.

Penyakit yang harus dihilangkan
Setiap manusia memiliki sifat individu. Sifat inilah yang menyebabkan manusia memiliki rasa ke-aku-an, yang menempatkan diri sebagai subyek dan memandang orang lain sebagai obyek. Penempatan diri sebagai subyek dan orang lain sebagai obyek, menimbulkan sikap otoriter dan eksploitatif. Kondisi ini yang menyebabkan timbulnya konflik dalam kehidupan masyarakat, karena masing-masing individu ada keinginan untuk mengeksploitasi dan “merendahkan” yang lain. Jika ini yang terjadi, interaksi antara individu atau hubungan antara orang ditandai dengan konflik dan mungkin bisa menjadi permusuhan. Hubungan yang ditandai dengan permusuhan, saling menghancurkan bukan hanya akan merugikan tetapi juga membuang energi secara sia-sia.

Rasa ke-aku-an yang berlebihan juga bisa menimbulkan sikap congkak dan sombong. Kesombongan dan kecongkaan sering kali menjadi penyebab kegagalan seseorang dalam mencapai karir. Dengan kesombongan dan kecongkanan mengakibatkan banyak orang tidak suka kepada kita. Kesombongan dan kecongkakan sebagai perwujudan dari rasa ke-aku-an yang berlibihan bisa menghambat karir kita, bahkan bisa menjurumuskan kita ke jurang kehancuran dan kegagalan . Oleh karena itu, sikap seperti ini harus kita buang jauh-jauh, bila kita ingin berhasil dalam meniti karir.

Dengan menyadari bahwa manusia adalah makluk sosial, yang tidak bisa hidup sendirian, dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka kita harus mampu mengelola diri sendiri dengan mehilangkan penyakit dalam diri kita, yaitu rasa ke-aku-an, egoisme yang berlebihan. Memang kita masih harus memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain, tetapi bukan berarti harus merendahkan dan meremehkan orang lain. Jika kita bisa mengelola diri sendiri dengan baik, dengan menempatkan diri sejajar dengan orang lain yang dilandasi dengan sikap untuk saling menghargai dan menghormati orang lain, akan memiliki modal sosial yang bisa dipakai untuk mencapai sukses di massa depan.

Menjadi orang “kaya”
Dengan bertolak dari asumsi bahwa tidak ada kebeberhasilan tanpa bantuan orang lain, maka yang harus dikembangkan adalah membangun pribadi yang “kaya”. Pribadi kaya adalah pribadi yang bisa memberi, bukan berarti memberi materi semata, tetapi memberi apa saja, termasuk memberi maaf, memberi kesempatan, memberi senyum, memberi salam, memberi apa yang dibutuhkan orang lain dan yang bisa kita lakukan. Dengan menjadi pribadi yang “kaya” akan semakin banyak orang yang suka dan menghormati, serta menghargai kita, dan sudah barang tentu akan semakin banyak teman yang bisa dijadikan modal untuk sukses ke depan.

Secara filosofis, tidak ada orang yang mau diberi predikat buruk, dan sangat jarang orang yang hanya mau menerima, tanpa memberi. Orang yang diberi, akan berusaha untuk membalas dengan memberikan sesuatu kepada orang yang memberi, meskipun hanya dengan doa. Coba kita perhatikan, ketika kita memberi kepada para fakir miskin, mereka akan berterimakasih dengan memberi doa kepada kita, karena mungkin hanya doa yang mereka miliki dan bisa diberikan sebagai pembalassan terhadap orang yang telah memberi sesuatu. Bahkan dengan mental “kaya”, secara relegius telah membantu Allah SWT dalam mendistribusikan rejeki kepada umatnya, dan sudah barang tentu akan dibalas dengan menambah rejeki kepada orang tersebut. Oleh karena itu, dalam Islam, zakat tidak akan mengurangi harta, tetapi justru akan menambah harta.

Besarnya peranan EQ dan SQ dalam menunjang keberhasilan, mempunyai landasan ilmiah, filosofis dan religius. Secara ilmiah telah dibuktikan oleh Daniel Coleman, secara filosofis berdasarkan pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, dan secara religius juga merupakan bagian diajarkan oleh agama (Islam). Namun untuk membangun EQ dan SQ juga memiliki kendala yaitu, rasa ke-aku-an (egoism), keserakahan, yang juga ada pada diri setiap orang. Oleh karena itu, keberhasilan membangun karir ke depan, sangat ditentukan bagaimana kita memanage diri, menjadi pribadi-pribadi yang unggul, yang bermental kaya. Penyakit egoisme, harus dibuang jauh. Dalam wacana ilmu sosial, kita harus membangun modal sosial (sosial capital), dengan membangun jaringan kerjasama dengan banyak pihak.

Pada masa kuliah seperti ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk berlatih membangun EQ melalui organisasi kemahasiswaan, Dengan ikut organisasi kemahasiswa, kita bukan hanya melatih mengikis egoisme, tetapi juga melatih dan sekaligus menguji kemampuan kepemimpinan. Dalam organisasi termasuk ormawa, kita dihadapkan pada berbagai orang dengan egonya masing-masing. Jika tidak mampu mengelola diri dengan baik, maka akan banyak berbenturan dengan teman. Dengan EQ yang baik dan jiwa kepemimpinan yang tinggi merupakan potensi menuju sukses, tinggal menunggu adanya peluang yang juga dibutuhkan sebagai syarat untuk sukses.

Menjadi mahasiswa adalah waktu untuk belajar tentang ketidakpastian dalam hidup. Kesadaran untuk bersiap pada ketidakpastian (ketidakmapanan) situasi pasca masa kuliah. Sebab Tuhan menaruhmu ditempat yang sekarang bukan karena kebetulan. Orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata.

Terakhir, saya mohon maaf, jika apa yang saya sampaikan ini ada kekurangan dan kekhilafan. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga kita bisa menajaga diri dan me “manage” diri kita masing-masing, sehinggga menjadi pribadi-pribadi yang unggul, pribadi-pribadi yang “kaya”, dan sekaligus menjadi pemimpin-pemimpin yang amanah. Amin 3 x. Alfatihah

Sumber gambar: http://thumbs.dreamstime.com/