Manajemen Diri & Pencapaian Keberhasilan

Banyak pihak mengeluhkan lulusan PT yang berkualitas serba tanggung. Hal ini karena lulusan cenderung kurang tangguh, kurang jujur, mudah stress, rendahnya kemampuan berkomunikasi lisan, dan lain sebagainya. Bahkan berdasarkan data BPS menyatakan bahwa “ternyata lulusan dari perguruan tinggi cenderung kurang mandiri dibandingkan dengan lulusan sekolah menengah. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya persentase lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai karyawan (83%)”. Perlu dicermati, ketidakmandirian yang dimiliki tenaga kerja saat ini merupakan cerminan pola didikan dan cara belajar ketika masih dibangku kuliah. Ketidakmandirian belajar seorang mahasiswa adalah warisan dari cara belajar ketika masih berada di tingkat SLTA. Begitu pula, ketidakmandirian siswa-siswa di tingkat SLTA adalah produk dari cara belajar ketika masih belajar di tingkat sekolah yang lebih rendah dan seterusnya.

Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih “brangasan” dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif. Dan dari hasil penelitannya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is dumb, ketika orang cerdas jadi bodoh. Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya.

Daniel Coleman menyatakan bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan Intelektual atau intelektual Quotient (IQ), tetapi juga ditentukan oleh kecerdasan emosi atau emotion quotient (EQ) dan kecerdasaran spiritual atau spiritual quotient (SQ) . Bahkan kontribusi EQ dan SQ dalam menunjang keberhasilan seseorang jauh lebih besar dibanding IQ. Pandangan ini tentu merubah paradigm lama, yang menyatakan bahwa orang yang sukses adalah orang yang pandai, yang selalu memperoleh rangking ketika sekolah, atau mahasiswa yang indek prestasinya tertinggi, yang ketika lulus kuliah memperoleh predikat cum laude. Menurut Ciputra mahasiswa yang pada saat kuliah memiliki IP tertinggi atau lulus dengan predikat cum laude, dengan nilai selalu A biasanya menjadi dosen. Mereka yang memiliki rangking kedua, dengan nilai rata-rata B pada umumnya menjadi birokrat, sedangkan mereka yang tidak mempunyai rangking, dan hanya dengan nilai C biasanya menjadi pengusaha. Dalam perjalanan selanjutnya, mereka yang menjadi pengusaha, biasanya yang lebih sukses, terutama dari aspek ekonomi dibanding dengan yang di birokrat maupun menjadi dosen.

Apa yang disampaikan oleh Ciputra sejalan dengan pendapat Coleman dan telah membuktikan bahwa yang menentukan keberhasilan hidup seseorang dalam bidang ekonomi, maupun dalam karir, bukan hanya kecerdasan Intelektual, tetapi ada kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Meskipun kecerdasan intelektual juga diperlukan, namun jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual hasilnya kurang optimal.

Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual ini sering disebut dengan soft skill yang disandingkan dengan kecerdasan intelektual yang sering disebut dengan hard skill. Kalau hard skill berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, analisis dan abstraksi, soft skil lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, membangun jaringan, kemampuan beradaptasi, dan bekerjasama dengan orang lain. Kontribusi soft skill terhadap keberhasilan seseorang dalam hidup tentu bukan hanya berdasarkan fakta yang telah terbukti, tetapi juga memiliki landasan sosiologis dan filosofis.

Secara filosofis, keberadaan manusia adalah keberadaan bersama, artinya manusia tidak bisa hidup secara sendirian. Aristoteles menyatakan bahwa you are older than me. Ini menunjukan bahwa engkau lebih dahulu dari aku, dalam arti ke-aku-an seseorang tidak akan ada artinya, tanpa ada orang lain (ENGKAU). Artinya, bahwa jika kita ingin menjadi manusia, keberadaan orang lain bisa diabaikan (living together). Hal ini bisa kita buktikan, ketika kita berada di kebun binatang sendirian, dihadapan para kera, dan kemudian kita mengatakan bahwa aku adalah orang yang baik, maka pernyataan tersebut tidak mempunyai makna apa-apa. Justru kalau ada orang lain yang tahu, mungkin kita dianggap orang gila. Pernyataan aku adalah orang yang baik itu baru akan bermakna, jika disampaikan dihadapan orang lain. Pernyataan seperti itupun masih membutuhkan pengakuan dari orang lain. Kalau orang lain tidak mau mengakui bahwa kita sebagai orang yang baik, maka yang pernyataan bahwa aku adalah orang baik akan sia-sia, karena nilai diri kita tergantung pada penilaian orang lain.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Heinemman bahwa adanya AKU karena ENGKAU, dalam arti bahwa ke-beradaan-ku sebagai manusia (baik atau buruk) tergantung bagaimana penilaian orang lain (ENGKAU). Aku hanya bisa mengkomunikasikan diriku lewat ucapan, sikap, perilaku, dan perbuatan kepada orang lain, dan orang lain akan memberi penilian apakah diriku orang baik atau buruk berdasarkan apa yang telah AKU kerjakan. Oleh karena itu, kehadiran orang lain sebagai subyek penilai, menjadi sangat penting, dan nilai diriku ditentukan oleh orang lain. Meskipun aku mengatakan bahwa diriku adalah orang baik, tetapi kalau orang lain (apalagi jumlahnyaa banyak) mengatakan bahwa aku adalah orang yang tidak baik, maka itulah nilai diriku.

Secara sosiologis manusia adalah makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi tersebut terjadi dua bentuk hubungan yaitu kerjasama dan persaingan yang bisa mengarah kepada konflik. Dalam hubungan kerjasama akan menghasilkan pembagian tugas atau peran dalam mewujudkan tujuan bersama. Dalam kerjasama tersebut, masing-masing menjalankan tugas dan peran sesuai dengan yang telah disepakati. Keberhasilan dalam mencapai tujuan sangat tergantung dari masing-masing individu dalam menjalankan tugas dan peran yang diemban. Jika semua individu menjalankan tugas dan perannya dengan baik, maka tujuan bersama tersebut juga akan tercapai dengan baik. Namun jika ada individu yang tidak menjalankan tugas dan perannya dengan baik, maka tujuan bersama tidak akan tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, dalam kerjasama harus dibangun rasa tanggungjawab terhadap tugas, kebersamaan, sikap toleransi, dan saling tolong menolong, dan itu semua dibutuhkann komunikasi yang jelas dan sopan.

Dalam kehidupan sosial dan organisasi, keberhasilan seseorang tidak lepas dari dukungan orang lain. Orang lainlah yang akan mempromosikan atau mengangkat seseorang untuk menduduki suatu jabatan, sudah tentu setelah mereka memberi penilaian baik terhadap diri dan kinerja kita. Ini menunjukan bahwa soft skill mempenyai peran yang sangat besar dalam menunjang keberhasilan atau karir sesorang. Kegagalan dalam membangun hubungan baik dengan orang lain, mengakibatkan sulit mencari orang yang mau mendukung atau mempromosikan untuk menduduki suatu jabatan yang lebih tinggi.

Kekuatan EQ dan SQ ini juga didukung oleh ajaran agama. Islam melalui hadist Rosulullah telah mengajarkan kepada umatnya untuk menjalin silaturahmi dan bekerja dengan iklhas dan lillahhitha’allah. Dalam Islam dikatakan bahwa silaturahmi akan menambah rejeki. Persoalannya sebagian masyarakat kita memahaminya dengan sangat sederhana, yaitu pada saat bersilaturahmi (berkunjung ke tempat teman) dengan memabawa oleh-oleh, sehinngga rejekinya langsung sebatas oleh-oleh yang dibawa. Padahal dengan bersilaturahmi akan semakin memperkuatan hubungan persabatan, dengan mengingat kembali kebaikan-kebaikan masing-masinng, sehingga pada saat mereka memiliki pekerjaan (misal proyek) maka yang akan segera diingat adalah teman yang baik. Begitu juga orang yang bekerja dengan ikhlas dan lillahhita’allah, tentu hasil pekerjaannya akan baik. Dengan demikian nilainya juga akan lebih tinggi dibanding dengan orang yang bekerja tidak dilandasi oleh keikhlasan dan niat hanya karena Allah. Dan ketika orang bekerja dengan baik, maka juga akan banyak orang yang senang, shingga akan mudah mencari pekerjaan.

Dalam interaksi sosial, meskipun tidak mutlak benar berlaku suatu “hukum” bahwa semakin baik sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, orang lainpun juga akan baik terhadap kita, begitu sebaliknya, semakin buruk sikap dan perilaku kita terhadap orang lain, orang lainpun juga tidak akan bersikap dan berperilaku baik terhadap kita.

Penyakit yang harus dihilangkan
Setiap manusia memiliki sifat individu. Sifat inilah yang menyebabkan manusia memiliki rasa ke-aku-an, yang menempatkan diri sebagai subyek dan memandang orang lain sebagai obyek. Penempatan diri sebagai subyek dan orang lain sebagai obyek, menimbulkan sikap otoriter dan eksploitatif. Kondisi ini yang menyebabkan timbulnya konflik dalam kehidupan masyarakat, karena masing-masing individu ada keinginan untuk mengeksploitasi dan “merendahkan” yang lain. Jika ini yang terjadi, interaksi antara individu atau hubungan antara orang ditandai dengan konflik dan mungkin bisa menjadi permusuhan. Hubungan yang ditandai dengan permusuhan, saling menghancurkan bukan hanya akan merugikan tetapi juga membuang energi secara sia-sia.

Rasa ke-aku-an yang berlebihan juga bisa menimbulkan sikap congkak dan sombong. Kesombongan dan kecongkaan sering kali menjadi penyebab kegagalan seseorang dalam mencapai karir. Dengan kesombongan dan kecongkanan mengakibatkan banyak orang tidak suka kepada kita. Kesombongan dan kecongkakan sebagai perwujudan dari rasa ke-aku-an yang berlibihan bisa menghambat karir kita, bahkan bisa menjurumuskan kita ke jurang kehancuran dan kegagalan . Oleh karena itu, sikap seperti ini harus kita buang jauh-jauh, bila kita ingin berhasil dalam meniti karir.

Dengan menyadari bahwa manusia adalah makluk sosial, yang tidak bisa hidup sendirian, dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka kita harus mampu mengelola diri sendiri dengan mehilangkan penyakit dalam diri kita, yaitu rasa ke-aku-an, egoisme yang berlebihan. Memang kita masih harus memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain, tetapi bukan berarti harus merendahkan dan meremehkan orang lain. Jika kita bisa mengelola diri sendiri dengan baik, dengan menempatkan diri sejajar dengan orang lain yang dilandasi dengan sikap untuk saling menghargai dan menghormati orang lain, akan memiliki modal sosial yang bisa dipakai untuk mencapai sukses di massa depan.

Menjadi orang “kaya”
Dengan bertolak dari asumsi bahwa tidak ada kebeberhasilan tanpa bantuan orang lain, maka yang harus dikembangkan adalah membangun pribadi yang “kaya”. Pribadi kaya adalah pribadi yang bisa memberi, bukan berarti memberi materi semata, tetapi memberi apa saja, termasuk memberi maaf, memberi kesempatan, memberi senyum, memberi salam, memberi apa yang dibutuhkan orang lain dan yang bisa kita lakukan. Dengan menjadi pribadi yang “kaya” akan semakin banyak orang yang suka dan menghormati, serta menghargai kita, dan sudah barang tentu akan semakin banyak teman yang bisa dijadikan modal untuk sukses ke depan.

Secara filosofis, tidak ada orang yang mau diberi predikat buruk, dan sangat jarang orang yang hanya mau menerima, tanpa memberi. Orang yang diberi, akan berusaha untuk membalas dengan memberikan sesuatu kepada orang yang memberi, meskipun hanya dengan doa. Coba kita perhatikan, ketika kita memberi kepada para fakir miskin, mereka akan berterimakasih dengan memberi doa kepada kita, karena mungkin hanya doa yang mereka miliki dan bisa diberikan sebagai pembalassan terhadap orang yang telah memberi sesuatu. Bahkan dengan mental “kaya”, secara relegius telah membantu Allah SWT dalam mendistribusikan rejeki kepada umatnya, dan sudah barang tentu akan dibalas dengan menambah rejeki kepada orang tersebut. Oleh karena itu, dalam Islam, zakat tidak akan mengurangi harta, tetapi justru akan menambah harta.

Besarnya peranan EQ dan SQ dalam menunjang keberhasilan, mempunyai landasan ilmiah, filosofis dan religius. Secara ilmiah telah dibuktikan oleh Daniel Coleman, secara filosofis berdasarkan pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian, dan secara religius juga merupakan bagian diajarkan oleh agama (Islam). Namun untuk membangun EQ dan SQ juga memiliki kendala yaitu, rasa ke-aku-an (egoism), keserakahan, yang juga ada pada diri setiap orang. Oleh karena itu, keberhasilan membangun karir ke depan, sangat ditentukan bagaimana kita memanage diri, menjadi pribadi-pribadi yang unggul, yang bermental kaya. Penyakit egoisme, harus dibuang jauh. Dalam wacana ilmu sosial, kita harus membangun modal sosial (sosial capital), dengan membangun jaringan kerjasama dengan banyak pihak.

Pada masa kuliah seperti ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk berlatih membangun EQ melalui organisasi kemahasiswaan, Dengan ikut organisasi kemahasiswa, kita bukan hanya melatih mengikis egoisme, tetapi juga melatih dan sekaligus menguji kemampuan kepemimpinan. Dalam organisasi termasuk ormawa, kita dihadapkan pada berbagai orang dengan egonya masing-masing. Jika tidak mampu mengelola diri dengan baik, maka akan banyak berbenturan dengan teman. Dengan EQ yang baik dan jiwa kepemimpinan yang tinggi merupakan potensi menuju sukses, tinggal menunggu adanya peluang yang juga dibutuhkan sebagai syarat untuk sukses.

Menjadi mahasiswa adalah waktu untuk belajar tentang ketidakpastian dalam hidup. Kesadaran untuk bersiap pada ketidakpastian (ketidakmapanan) situasi pasca masa kuliah. Sebab Tuhan menaruhmu ditempat yang sekarang bukan karena kebetulan. Orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata.

Terakhir, saya mohon maaf, jika apa yang saya sampaikan ini ada kekurangan dan kekhilafan. Dan saya hanya bisa berdoa, semoga kita bisa menajaga diri dan me “manage” diri kita masing-masing, sehinggga menjadi pribadi-pribadi yang unggul, pribadi-pribadi yang “kaya”, dan sekaligus menjadi pemimpin-pemimpin yang amanah. Amin 3 x. Alfatihah

Sumber gambar: http://thumbs.dreamstime.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s