Menakar Ulang Ke-Bhinekaan Di Sekolah Kita

KebhinekaanMasih seringnya dijumpai siswa-siswa yang galau dibeberapa sekolah disaat-saat menjelang evaluasi akademik tentu merupakan kondisi psikologi yang wajar. Akan tetapi apabila hal ini lebih disebabkan tuntutan menghafal materi yang telah diajarkan guru, tentu perlu dipertanyaan. Seorang siswa tentunya belajar dari evaluasi belajar yang sudah-sudah, apabila guru selalu mengacu pada catatan materi yang telah diberikan tentu tidak ada pilihan lagi bagi siswa kecuali menghafal materi yang ada.

Untuk mendapatkan nilai yang baik menghafal puluhan kalimat dan catatan penting menjadi jalan terbaik, meski ditengah jadwal evaluasi yang terkadang tidak hanya satu kali. Terlebih orang tua mereka pun hanya menuntut nilai yang tinggi, tanpa mau mengerti bagaimana anak-anak mereka mendapatkan nilai tersebut.

Kondisi ini sungguh sebuah ironi disaat pendidikan kita tengah berbenah untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan kemandirian menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Perilaku pembelajaran menjadi terjebak pada orientasi yang lebih mengedepankan pengetahuan. Interaksi sosial yang ada disekolah pun menjadi lebih pada benar dan salah. Interaksi yang kaku antara guru dan siswa. Membentuk siswa menjadi pribadi pasif yang harus menurut pada apa yang dianggap guru sebagai hal yang benar. Pada gilirannya inilah yang menjadi penyebab masing “langgeng”nya pola pembelajaran hafalan, yang tentu salah satunya disebabkan belum terbiasanya guru menerima jawaban berbeda dari apa yang diajarkan.

Menerima perbedaan sungguh amatlah sulit terlebih jika tidak dimulai dari sebuah kebiasaan. Terlebih hal ini turut memberikan kemampuan pada seseorang untuk mampu beradaptasi dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Salah satu kecakapan hidup yang seharusnya juga diajarkan guru disekolah pada muridnya. Kemampuan menerima perbedaan perlu diajarkan sebagai sebuah kecerdasan yang harus dikuasai dan diasah oleh setiap siswa. Sebab keberagaman adalah keniscayaan yang setiap siswa pasti akan hidup didalamnya. Prinsip ke-bhinekaan bangsa ini, tuntutan dunial global dan hakekat manusia sebagai makhluk sosial, menjadi dasar pentingnya membelajarkan siswa untuk menerima perbedaan. Dan pembelajaran menerima perbedaan itu pertama kali dimulai dari para guru.

Untuk belajar menerima perbedaan, para guru perlu menempatkan kemampuan ini sebagai komponen kecerdasan sosial atau kompetensi sosial. Kecerdasan atau kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, membangun relasi dan kerjasama, menerima perbedaan, memikul tanggung jawab, menghargai hak orang lain, serta kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Kemampuan membangun relasi meliputi kepandaian bergaul, membina persahabatan, hubungan kerja atau jaringan bisnis.

Membelajarkan kecerdasan sosial

Kecerdasan sosial (social intelligence) berkaitan erat dengan kecerdasan bahasa (language intelegence) dan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Sebagai salah satu dari sembilan kecerdasan majemuk yang diidentifikasikan oleh ahli psikologi sosial, Prof. Howard Gardner (1986). Yang menurut pakar psikologi sosial Thomas Amstrong (1986), dalam perkembangannya akan bekerja secara bersinergi dan serentak ketika seseorang berinteraksi orang lain. Oleh sebab itu untuk membelajarkannya disekolah seorang guru perlu mengintegrasikan kecerdasan ini dalam pembelajaran di kelas.

Yang harus diyakini para guru adalah setiap manusia memiliki potensi kecerdasan sosial. Secara naluriah, setiap manusia memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya.Pada suatu kegiatan pembelajaran, seorang anak berkata kepada guru, “Bu guru, saya tidak memahami bagian ini ….” Guru itu tidak serta merta memberikan penjelasan kepada anak itu, melainkan berkata kepada anak-anak lainnya, Anak-anak, teman kalian ini mengalami kesulitan memahami materi. Ada yang bersedia membantu? Pada kesempatan lain, guru itu juga berkata “Anak-anak sekalian. Faiz, teman kalian, hari ini tidak masuk karena sakit. Yuk, kita doakan bersama-sama. Dua ilustrasi itu secara sederhana menggambarkan bagaimana guru membudayakan kesadaran pada diri anak untuk berempati dan peduli pada kesulitan orang lain. Kesadaran demikian merupakan indikator kecerdasan sosial yang sangat penting dimiliki anak.

Bagi guru dan orang tua kecerdasan sosial dapat diasah dengan merubah persepsi awal terhadap kecerdasan. Persepsi yang harus diubah adalah bahwa kecerdasan sosial tidak kalah penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Banyak guru dan orang tua yang sangat senang apabila anaknya mendapat nilai yang selalu bagus di sekolahnya. Hal tersebut memang benar, namun tidak seutuhnya benar. Sebab menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman (1995 dan 1998) menunjukkan bahwa kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual memberikan kontribusi sebesar 80% terhadap tingkat kesuksesan seseorang, sedangkan kecerdasan intelektual hanya memberikan kontribusi sebesar 20%.

Karl Albrecht dalam “The New Science of Success”, menyebutkan bahwa kecerdasan sosial terdiri dari  lima komponen ketrampilan yang disingkat dengan kata ˜SPACE”, yaitu : (1) Situational Awareness (kesadaran situasional).The ability to read situations and to interpret the behaviours of people in those situations. Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kemampuan untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Seseorang yang merokok di tempat umum dan menghembuskan asapnya secara sembarangan menunjukkan bahwa dia memiliki situational awareness  yang rendah. (2) Presence (kemampuan membawa diri) Also known simplistically as bearing, is the impression, or total message you send to others with your behavior. People tend to make inferences about your character, your competence and your sense of yourself based on the behaviors they observe as part of your total presence dimension. Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda berikan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan, adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Kita akan lebih mudah mengingat orang lain yang memiliki kualitas presence yang paling baik dan yang paling buruk.(3) Authenticity (keaslian) Authenticity is the extent to which others perceive you as acting from honest, ethical motives, and the extent to which they sense that your behavior is congruent with your personal values i.e. playing straight.Authenticity atau sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya, jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini sangat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan jejak relasi yang mulia nan bermartabat. Orang lain akan lebih memercayai kita, apabila kita tulus dalam segala perbuatan, dan juga apabila kita berlaku apa adanya, tidak dibuat-buat.(4) Clarity (kejelasan)Clarity is the ability to express ideas clearly, effectively and with impact. It involves a range of communicating skills such as listening, feedback, paraphrasing, semantic flexibility, skillful use of language, skill in using metaphors and figures of speech, and the ability to explain things clearly and concisely Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara baik dan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Sering kali kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara baik sehingga atasan atau rekan kerja kita tidak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan baik apabila kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan penuh kejernihan dan kebeningan. Seseorang yang memberikan pendapatnya dengan gugup dan tidak jelas, sekalipun gagasan itu bagus, tetap saja para pendengar akan merasa tidak yakin terhadap gagasan tersebut.(5) Emphaty (empati)Emphaty is the skill of building connections with people the capacity to get people to meet you on a personal level of respect and willingness to cooperate. Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang baik kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat  terhadap sesama rekan kita.

Urgensi Kecerdasan Sosial

Coba anda perhatikan siswa lulusan hari ini, banyak dipihak tentu dapat memberikan penilaian yang sama bahwa mereka semakin individual dan semakin abai dengan lingkungannya. Hasil penelitian senada terhadap 95 Mahasiswa Harvard lulusan tahun 1940-an. Dalam penelitian tersebut dinyatakan bahwa mereka yang saat kuliah dulu mempunyai kecerdasan intelektual tinggi, namun mereka memiliki sifat egois, angkuh, atau tampak kurang dalam pergaulan, ternyata hidup mereka tidak terlalu sukses (berdasarkan gaji, produktivitas, dan status bidang kerja) bila dibandingkan dengan mereka yang kecerdasan intelektualnya biasa saja, tetapi supel dalam pergaulan, mempunyai banyak teman, bisa berempati, pandai berkomunikasi, dan tidak temperamental.

Terkait dengan hasil penelitian tersebut, kita juga sering menyaksikan dalam lingkungan tempat tinggal kita. Tidak jarang seseorang yang kita pandang mempunyai kecerdasan lebih di kampusnya, ketika diminta pendapatnya dalam sebuah musyawarah mengenai suatu masalah yang terjadi, tampak dia kesulitan sekali menyampaikan pendapatnya secara runtut dan baik. Hal ini bisa terjadi bukan karena orang tersebut tidak mempunyai kecerdasan intelektual yang baik, namun kecerdasan sosialnya kurang dikembangkan dengan baik sehingga ia mengalami kegagapan ketika dihadapkan pada masalah yang sebenarnya dalam lingkungan sosial.

Kecerdasan intelektual memang sangat penting untuk terus dikembangkan, namun kecerdasan sosial juga tidak boleh diabaikan. Karena kecenderungan masyarakat modern, seringkali bersitegang dengan waktu karena adanya target atau bahkan ambisi disegala bidang, baik kebutuhan terhadap pemenuhan materi sekaligus gengsi yang semakin menguat akan membuat kehangatan hubungan sosial semakin berkurang. Hal inilah menjadi penting dikembangkan sehingga anak kita dikemudian hari memiliki hubungan sosial yang baik. Tidaklah cukup apabila orang tua mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang cerdas, sehat, bermoral, berbudi luhur, ceria, mandiri dan kreatif hanya menyerahkan kepada sekolah saja. Anak membutuhkan kesempatan lebih luas, seperti bersosialisasi dan mendapatkan kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatif salah satunya dengan peningkatan kecerdasan sosial anak.

Kekerasan dalam rumah tangga, tawuran antarkampung, perkelahian antarpelajar atau mahasiswa, bentrok antarkelompok politik, etnik, atau agama makin sering menghiasi media.

Serentetan peristiwa tersebut menjadi bukti, bahwa tindakan brutal sering dijadikan alternatif untuk memecahkan masalah. Seakan tidak ada upaya yang lebih manusiawi, santun, dan berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan untuk menyelesaikan problem yang terjadi. Mengapa kecenderungan seperti ini begitu marak? Salah satu variabel penyebab anak bangsa ini menggunakan cara anarkis guna menyelesaikan berbagai persoalan atau mencapai tujuan adalah tumpulnya kecerdasan sosial.

Hal yang menyebabkan kecerdasan sosial tumpul dilatarbelakangi oleh  proses pendidikan di keluarga maupun masyarakat mengalami salah arah. Penanaman nilai-nilai pendidikan di keluarga, acapkali hanya mengejar status dan materi. Orang tua mengajarkan pada anaknya bahwa keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh pangkat atau kekayaaan yang dimilikinya. Masyarakat juga begitu, mendidik orang semata mengejar tahta dan harta.  Proses ini tampak pada masyarakat yang lebih menghargai orang dari  jabatan dan kekayaan yang digenggamnya. Kondisi ini membuat orang terobsesi untuk memperoleh kedudukan tinggi dan kekayaan yang berbuncah-buncah agar terpandang di masyarakat. Untuk mengejar ambisi tersebut orang kadang menanggalkan etika dan moral, bahwa cara yang ditempuh untuk mewujudkan impiannya itu bisa menyengsarakan orang lain.

Akibat yang ditimbulkan dari kecerdasan sosial yang tidak terasah  pada individu adalah memberi kontribusi pada perilaku anarkis. Hal ini dikarenakan individu yang kecerdasan sosialnya rendah tidak akan mampu berbagi dengan orang lain dan ingin menang sendiri. Kalau dia gagal akan melakukan apa saja,  asal   tujuannya bisa tercapai, tak peduli tindakannya merusak lingkungan, dan tidak merasa yang dikerjakannya menginjak harkat dan martabat kemanusiaan. Sehingga diskripsi kepribadian seperti ini, berpotensi melakukan perilaku anarkis, ketika hasrat pribadinya tidak tercapai atau sedang menghadapi masalah dengan orang atau kelompok lain.

Betapa pentingnya peranan kecerdasan sosial untuk mencegah perilaku anarkis, maka perlu dicari solusi untuk mengembangkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial menjadi solusi efektif meredam anarkis, karena orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi, mempunyai seperangkat keterampilan psikologis untuk memecahkan masalah dengan santun dan damai.

Sumber gambar: http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s