Vaksin dan Elevator Sosial

IM_HALSEL_661Dalam upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menyampaikan pentingnya pendidikan sebagai vaksin dan elevator sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua hal tersebut dapat menaikkan daya tahan sosial agar terhindar dari penyakit kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan beradaban, serta meningkatkan status sosial masyarakat. Sungguh pemaknaan yang mendalam dari proses yang kenal sebagai pendidikan, seperti halnya apa yang dilakukan oleh Gerakan Muda Anshor di tahun 2013 ini.

Tepatnya tahun ini adalah tahun ketiga Gerakan Muda Anshor mengadakan kegiatan rutin pesantren kilat bimbingan SNMPTN gratis dibeberapa lokasi berbeda. Yang mungkin karena label “gratis” inilah, hingga ditahun ketiga kegiatan ini masih menarik minat siswa-siswa SMA dan sederajat untuk mengikutinya.

Sekitar 300 siswa pendaftar antusias untuk mengikuti seleksi calon peserta, meski nantinya hanya akan menyisakan 30 siswa kelas IPA dan IPS saja dari kesemuanya. Tetapi sungguh, hal tersebut tidak membuat para siswa ini gentar dan atau kecil hati sebelum mencoba untuk ikut tes tulis sebagai persyaratan awal. Peraih nilai terbaik sampai dengan rangking 30 inilah yang nanti akan diberikan bimbingan SNMPTN dan wajib tinggal di pondok untuk mendapatkan pemantapan materi keagamaan. Sungguh sebuah bukti bahwa semangat anak bangsa ini untuk merubah nasibnya melalui eskalator pendidikan belum hilang.

Kata-kata bijak yang menyebutkan bahwa Anda bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan. tapi hidup tidak pernah menunda urusannya untuk menunggu anda berubah. Benar-benar difahami oleh gerakan Anshor sebagai bagian dari khidmahnya terhadap bangsa. Komunitas Mata Air merupakan komunitas terbuka bagi seluruh anak cucu Adam yang kelahirannya dibidani oleh seorang kyai-budayawan, KH Ahmad Mustofa Bisri. Komunitas Mata Air telah mengalirkan airnya ke seluruh pelosok penjuru Indonesia. Di Jakarta, Komunitas MataAir didirikan oleh Gus Mus bersama sejumlah kyai, intelektual dan professional seperti Habib Luthfi bin Yahya, Dr. KH. Asad Said Ali, KH Masdar F. Masudi, KH Muadz Thohir, KH Thantowi Jauhari Musaddad dan (Alm) KH. Masykur Maskub. Nama MataAir sengaja dipilih sebagai titel komunitas ini karena adanya kerinduan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dimana nilai-nilai tersebut bersumber dari mata air ajaran Kanjeng Nabi yang jernih dan belum terkontaminasi limbah peradaban modern.

Para pendiri Komunitas Mata Air ingin mengajak seluruh anak cucu adam tanpa sekat agama dan budaya- untuk melepas dahaga spiritualnya dengan meneguk kejernihan ajaran, nasihat dan teladan Kanjeng Nabi Muhammad SAW serta para ulama salaf langsung dari sumber aslinya, langsung dari mata air. Dahaga masyarakat terhadap nilai-nilai spiritual yang menyejukkan sekaligus mencerahkan coba dipenuhi oleh Komunitas Mata Air melalui serangkaian aktivitasnya.

Ide tentang bimbingan SNMPT gratis ini sebenarnya adalah bagian dari upaya untuk menyelamatkan bakat-bakat potensial anak bangsa yang seringkali hilang karena ketidakmampuan ekonomi. Melunasi janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang tidak diterima merata di penjuru Tanah Air. Namun kesenjangan anatara kenyataan dan kemampuan menjadikan idealisme ini masih harus terbatas pada jumlah dan peringkat. Padahal sebenarnya kepedulian hakekatnya tidak boleh memiliki batasan, tetapi alasan dana adalah hal klasik yang menjadikan kegiatan ini belum mampu menampung semua bakat potensial anak bangsa ini.

Dimanakah Sekolah ?

Sebagai guru hati kecil ini pun bertanya apa proses disekolah masih belum memadai bagi siswa-siswa tersebut. Apa gunanya belajar di sekolah, tapi masih mengikuti pelajaran di Bimbel. Ini artinya Bimbel telah mereduksi sekolah, Pertanyaan ini tentu tidak membutuhkan jawaban sebab realitas sekolah dan realitas kehidupan sering bertolak belakang. Kerja keras menjadi kata kunci agar setiap orang berhasil dalam proses pendidikan dan kehidupan. Memberi bukti nyata bahwa menuntut ilmu sekolah saja tidaklah cukup, tetapi menuntut ilmu dalam luas dan kerasnya kehidupan turut menjadi kewajiban.

Dalam celah ini bimbingan belajar masih akan ada menjemput harapan-harapan anak-anak didik kita yang belum mampu dijawab oleh sekolah. Atas dasar kebutuhan tersebut setiap Bimbel berani untuk memasang tarif yang bersaing dengan beragam fasilitas. Namun, tidak demikian halnya bimbingan pesantren kilat yang dilakukan oleh Yayasan Mata Air yang tidak memberikan tarif tetapi lebih didasarkan pada aspek kemanusiaan. Menjawab kebutuhan pendidikan bagi mereka yang tidak mampu untuk lebih mampu bersaing dengan saudaranya sesama anak bangsa.

Sebagai guru disini kita perlu meyakinkan anak didik kita untuk menjadi pribadi yang kuat. Untuk itulah perilaku akademik kita sebagai bagian pembentukan kepribadian melalui otoritas nilai dan pendidikan nilai perlu dimaksimalkan. Guru tidak lagi demikian subyektif untuk memberikan nilai kepada siswa, tetapi melalui hasil obyektif dan proses yang jujur. Guru memberikan keteladanan perilaku dalam interaksi dengan siswa baik didalam ataupun diluar sekolah. Sebab apa artinya seorang guru tanpa kewenangan memberi nilai dan contoh moral, jawabnya adalah tidak ada.

Disisi lain guru pun harus terus mengkampanyekan kesadaran semua pihak bahwa pendidikan adalah bagian dari “eskalator pendidikan”. Intrumen sosial yang diyakini banyak pihak sebagai alat rekayasa sosial yang paling baik, untuk membentuk sebuah peradaban bangsa. Jangan hanya karena keterbatasan biaya menjadikan kita menjadi abai dengan pentingnya pendidikan. Sekaligus membangun kepedulian bersama bahwa tidak semua pihak memiliki nasib yang sama, ada sebagian dari anak-anak kita yang memiliki potensi dan idealisme untuk meraih haknya dalam pendidikan.Hak untuk menjadi terdidik, hak untuk memiliki pilihan lain dari keterbatasan yang mereka miliki.

Persoalan pendidikan harus ditempatkan sebagai persoalan bangsa, yang berarti menempatkannya sebagai semua komponen bangsa ini. Hal ini penting, terlebih disaat negara nyata-nyata belum mampu melaksanakan peran dan tanggungjawabnya di bidang pendidikan secara merata. Dan tidak terkecuali pula panggilan bagi para guru, untuk berperan lebih dari profesional untuk turut membuka akses pendidikan yang berkeadilan bagi setiap anak bangsa.

Tentu ini dapat diartikan sebagai sebuah ajakan kepada semua guru yang kini telah sejahtera karena sertifikasi telah dinikmati. Untuk sekedar mengingatkan bahwa pada sertifikasi tersebut terkandung nilai kepedulian para guru untuk tidak hanya peduli terhadap peningkatan kualitas akademiknya, profesionalitasnya, atau hal-hal yang bersifat individual saja. Tetapi juga kepedulian untuk turut serta menyelamatkan anak-anak bangsa yang terpinggirkan dalam sistem pendidikan dan kebekuan pola pikir sekelompok masyarakat untuk melihat pendidikan sebagai alat perubahan. Meningkatkan kualitas dan akses berkeadilan, tanpa membedakan asal-usul, status sosial, ekonomi, dan kewilayahan. Apabila guru mampu mengambil peran, maka dengan demikian para guru akan menemukan arti baru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diera sertifikasi guru hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s