Self-Efficacy dan Kecemasan Ujian Nasional

possibilitiesSalah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia adalah melalui Ujian Nasional (UN). Disini siswa diharuskan untuk mampu mencapai nilai standart kelulusan yang diberlakukan. Namun kenyataannya, seperti yang kita dengar sendiri penyelenggaraan ujian nasional mengundang pro dan kontra. Diantaranya berasumsi bahwa ujian nasional hanya mengukur salah satu aspek saja, yaitu aspek kognitif. Padahal untuk menjadikan siswa yang memiliki kualitas yang tinggi tidak hanya diperlukan aspek kognitf saja, melainkan aspek psikomotor dan afektif juga. Selain itu asumsi lain mengatakan bahwa kondisi sekolah yang berbeda-beda sehingga akan tidak adil jika kelulusan diukur menggunakan standart nilai yang sama. Di lain pihak, tetap diadakannya ujian nasional didasarkan pada argumentasi bahwa ujian nasional dirasa penting sebagai tolak ukur untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sebagai pendorong bagi seluruh anggota didik untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Catatan Kompas (dalam Karakiri, 2010) Mendekati Ujian Nasional (UN), ribuan siswa di sejumlah daerah di Indonesia, dihinggapi rasa cemas dan takut tak lulus UN. Sejumlah siswa , menangis, bahkan pingsan, mereka khawatir, tidak lulus UN, yang akan digelar Senin lusa. Untuk memperkuat mental jelang UN, mereka menggelar zikir dan doa bersama.Sedangkan di Tegal, Jawa Tengah, siswa SM Al Irsyad, Tegal, saling berpelukan, dan mendoakan, agar sukses dan lulus UN. Pihak sekolah berharap, seluruh siswanya yang ikut UN, bisa lulus 100 persen. Sementara di Magelang, Jateng, sejumlah siswa SMK menyatakan, meski yakin akan lulus UN, mereka tetap saja mereka khawatir. Hal sama, juga dirasakan ratusan siswa SMK Nasional di Limo, Depok, Jawa Barat, sebagian siswa larut dalam kesedihan, karena takut tak lulus UN. Di Jakarta sendiri, persiapan UN sudah mencapai final. Sejumlah sekolah, sudah menempelkan nomor urut ujian, maupun menyiapkan meja bagi pengawas. Siswa sebenarnya tidak perlu menangis, jika mereka rajin belajar dan berusaha maksimal. Apalagi, pemerintah sudah menyiapkan ujian susulan, untuk seluruh tingkatan, mulai SMA, MA dan SMK, SMP, hingga Sekolah Dasar (SD), dan setingkatnya.(ARL).

Meskipun prosentase kelulusan siswa hampir mendekati nilai sempurna, tetapi ujian nasional tetap menjadi momok yang terus membayangi mereka. Dikarenakan setiap tahunnya nilai standart kelulusan oleh pemerintah, selalu dinaikkan, sehingga membuat siswa yang mau mengikuti ujian nasional setiap tahunnya merasa cemas dan mereka takut tidak lulus dalam ujian nasional. Bagi siswa, ujian nasional sebagai penentu kelulusan pendidikan formal, ujian nasional menjadikan beban tersendiri yang membuat pikiran menjadi resah. Keresahan siswa tersebut menjadikan kecemasan tersendiri dalam menghadapi ujian nasional. Ketakutan tersebut bisa menjadi beban dan membuat para peserta ujian nasional tersebut merasa takut, tertekan, dan depresi menghadapi ujian nasional dan sangat tidak menutup kemungkinan berdampak pada gangguan psikologis jika nantinya gagal atau tidak lulus ujian nasional tersebut. Kegagalan menghadapi ujian nasional ternyata tidak hanya disebabkan oleh ketidak siapan siswa dalam penguasaan materi pembelajaran yang diujikan, melainkan lebih disebabkan oleh adanya stress dan takut menghadapi ujian, takut gagal, dan tidak lulus. Itu semua bisa menyebabkan kecemasan.

Manajemen Kecemasan

Wiramihardja (2005) menjelasakan bahwa kecemasan (anxiety) yaitu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya. Sumber kecemasan pada siswa yang menghadapi ujian nasional adalah ketakutan atau kekhawatiran mereka akan nasib kelulusan yang diukur dengan nilai standart kelulusan. Idealnya, ujian nasional tidak perlu ditanggapi dengan kecemasan yang akan membuat resah siswa. Ketika siswa mampu dan siap secara intelegent, siswa juga harus mampu dengan keyakinannya menghadapi ujian nasional. Kebanyakan siswa yang mampu secara intelegen, mereka terkadang tidak yakin dengan kemampuannya tersebut. Oleh sebab itu, kepercayaan atau keyakinan akan kemampuan menghadapi ujian nasional juga menjadi salah satu faktor selain kesiapan intelegensi.

Kreitner & Kinicki (2003) menyebutkan kepercayaan terhadap kemampuan seseorang untuk menjalankan tugas disebut dengan self efficacy. Ketika menghadapi ujian nasional, keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka akan mempengaruhi bagaimana cara mereka dalam berekasi. Para peneliti telah mendokumentasikan suatu ikatan yang kuat antara self efficacy yang tinggi dengan keberhasilan dalam tugas fisik dan mental yang sangat beragam, seperti penurunan kegelisahan yang berkurang, pengendalian kecanduan, toleransi rasa sakit, penyembuhan penyakit, dan penghindaran mabuk laut pada calon angkatan laut.

Keyakinan dalam menghadapi suatu keadaan akan berpengaruh terhadap tingginya kecemasan yang dialami seseorang pada keadaan tertentu, dalam hal ini keadaan menghadapi ujian nasional. Semakin tinggi self efficacy yang dimiliki siswa, maka semakin memiliki keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi keadaan yang tertekan yaitu menghadapi ujian nasional. Sehingga siswa tidak merasa khawatir dan cemas dalam menghadapi ujian nasional. Begitu juga sebaliknya, siswa yang memiliki kecemasan yang tinggi, mereka akan tidak yakin dapat menghadapi keadaan yang mereka anggap menekan.

Berdasarkan penjelasan di atas, hal yang perlu disadari oleh kita adalah bahwa kecemasan merupakan bagian dari kehidupan sehari-sehari dan hampir setiap individu pernah mengalaminya. Begitu juga dalam menghadapi ujian nasional, siswa sering kali merasa cemas dalam megahadapi ujian nasonal. Dan hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap proses mengerjakan ujian nasional tersebut dan bisa berakibat ketidak lulusan dalam menghadapi ujian nasional. Hal ini berawal dari ketidakyakinan akan kemampuan diri yang boleh jadi karena self efficacy, dimana self efficacy akan berpengaruhi self regulation seseorang. Ketika individu dengan self efficacy tinggi akan yakin pada self regulation-nya, dan ketika self efficacy rendah maka individu akan tidak yakin akan self regulation-nya yang akan akhirnya akan muncul cemas pada seseorang. Kecemasan menghadapi ujian nasional adalah istilah untuk menggambarkan suatu pengalam subjektif mengenai kekhawatiran atau ketegangan penilain selama proses berlangsungnya ujian termanifestasikan dalam kognitif, afektif dan fisiologis.

Kecemasan yang terlalu berlebihan dalam menghadapi ujian nasional akan berpengaruh terhadap kehidupan akademik siswa dan kesulitan berkonsentrasi. Selain itu juga berefek buruk terhadap cara belajar, kompetisi akademik, kepercayaan diri, penerimaan diri maupun konsep dirinya. Bandura (1997) mendefinisikan self efficacy sebagai suatu keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk menyusun dan mengarahkan tingkah lakunya untuk menciptakan hasil yang dikehendaki. Menurut teori efficacy (Bandura, 1997) perubahan-perubahan psikologis dicapai melalui metode dan teknik yang dapay dijelaskan dan diramalkan oleh suati evaluasi terhadap penghargaan yang dimiliki oleh individu yaitu self efficacy.

Self efficacy juga diartikan sebagai perasaan yang dimiliki individu bahwa dirinya cakap dan mampu melakukan tindakan-tindakan yang tepat sehingga disimpulkan bahwa self efficacy mengandung makna kepercayaan diri yang dimiliki seseorang untuk dapat mengorganisasikan dan memiliki tindakan yang diperlukan dalam menghadapi situasi khusus yang mungkin terdapat kekaburan, tidak dapat diprediksi dan penuh tekanan. Self efficacy mengacu pada keyakinan akan kemampuan-kemampuan individu untuk menggerakan kemampuan kognitif serta tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan situasi (Bandura, 1997) Bandura (1997) mengatakan bahwa pada dasarnya self efficacy adalah hasil dari proses kognitif berupa keputusan, keyakinan, atau penghargaan tentnag sejauhmana individu memberikan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas dan tindakan tertentu yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Hal ini berarti bahwa konsep tentang self efficacy berkaitan dengan sejauhmana individu mampu menilai kemampuan, potensi, serta kecenderungan yang ada pada dirinya untuk dipadukan menjadi tindakan tertentu dalam mengatasi situasi yang mungkin dihadapi di masa yang akan datang.

Bandura (dalam Alwisol, 2010) Self efficacy adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Kreitner & Kinicki (2005) self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu. Bandura (dalam Baron dan Byrne, 2004) juga mengemukakan bahwa self efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan. Jadi dapat disimpulkan self efficacy yaitu keyakinan yang dimiliki seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya

Perlunya Dukungan Eksternal

Untuk meningkatkan self efficacy, perlu upaya untukmemberdayakan dari salah satu atau beberapa kombinasi dari empat faktor self efficacy yaitu melalui pengalaman keberhasilan masa lalu, pengalaman keberhasilan yang dicapai orang lain, persuasi sosial, dan memodifikasi keadaan emosi. Apabila faktor-faktor tersebut diberdayakan dengan tepat dan berkesinambungan maka hasil yang diharapkan akan tercapai, sehingga usaha siswa dapat meningkat. Bandura (dalam Funder, 2001) menyatakan bahwa individu yang tidak yakin mampu mengatasi situasi yang mengancam akan mengalami kecemasan. Kecemasan membuat seseorang sulit berkonsentrasi sehingga rentan melakukan kesalahan. Situasi seperti di atas sering dialami oleh siswa. pada sebagian siswa, kondisi ini membuat individu mengalami ketegangan dan reaksi emosi yang berlebihan. Dalam proses menghadapi ujian nasional diharapkan setiap siswa mampu mengatasi masalah tersebut sehingga dapat menghadapi ujian dengan baik. Namun, ada sebagain yang tidak mampu mengatasi kondisi atau meredam kecemasannya yang ditandai dengan berbagai gejala yang berpengaruh secara fisik maupun psikis, sehingga berdampak pada usaha siswa yang cenderung menurun.

Bandura (1997) menyatakan bahwa keberhasilan individu menyelesaikan tugas dapat meningkatkan self efficacy. Oleh karena itu, diharapkan individu bisa tetap berkonsentrasi pada tugasnya sehingga resiko melakukan kesalahan kecil. Individu memilih untuk mengambil tindakan nyata dan memiliki kemauan yang besar untuk menyelesaikan masalah walaupun berisiko tinggi, sehinga masalah tersebut tidak lagi menjadi sumber kecemasan dan kecemasan yang dialami berangsur turun. Keberhasilan individu membuat individu semakin percaya diri. Self efficacy yang rendah akan berpengaruh pada kecemasan dalam menghadapi ujian nasional, karena siswa yang merasa kurang yakin dengan kemampuan yang dimilikinya akan mengalami kecemasan sehingga dapat mempengaruhi seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seseorang siswa dalam mengahadapi ujian nasional. Siswa yang memiliki self efficacy tinggi akan lebih bersemangat dan lebih mampu bertahan dalam menghadapi ujian nasional karena siswa yang memiliki keyakinan mampu dalam menghapi ujian nasional dengan baik seperti mengatur waktu bagaimana cara belajarnya, hasil try out yang diadakan pihak sekolah sangat memuaskan, mengikuti bimbingan les di luar sekolahan sehingga siswa akan melakukan usaha yang lebih baik dan terarah untuk mencapai hasil yang lebih baik pula, maka siswa tersebut memiliki kecemasan yang rendah.

Begitu pula sebaliknya apabila siswa kurang memiliki keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya dalam menghadapi ujian nasional, maka siswa tersebut memiliki kecemasan yang tinggi, disebabkan karena siswa tersebut tidak meiliki keyakinan, cara belajar yang asal-asalan, nilai try out yang tidak memuaskan atau tidak lulus dalam try out yang diadakan oleh pihak sekolah, tidak mengikuti bimbingan les, mengerjakan soal-soal tanpa berfikir sehingga hasilnya yang diperoleh kurang baik atau tidak sesuai dengan harapan itu semua akan mempengaruh kecemasan ketika menghadapi ujian nasional. Dalam kondisi inilah dukungan guru, orang tua, teman sebaya menjadi penting agar kecemasan dapat dikelola, dan berubah menjadi semangat untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

Sumber gambar: http://www.h3daily.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s