Melawan Mitos Pembelajaran

mitosPernah suatu ketika diingatkan oleh seorang, teman untuk jangan terlalu dekat dengan siswa. Selayaknya seorang guru harus tegas, punya integritas dan entah apalagi yang berarti bahwa guru harus disegani siswa. Saran ini tidak seketika mudah diterima, sambil berjalannya waktu kegundahan kerap kali muncul untuk berharap menemukan jawaban. Hingga melalui interaksi bersama siswa dan diskusi bersama rekan guru lain tampaknya ditemukan sesuatu berbeda terkait itu semua. Entah sebuah jawaban atau sekedar temuan, tetapi ada perbedaan antara siswa yang takut dan siswa yang segan. Perbedaan ini tidak hanya pada kata atau susunan huruf tetapi juga pada pola interaksi antara guru dan siswa tersebut.

Sesuai kodratnya komunikasi antara dua pihak adalah proses timbal balik dua arah. Komunikasi membutuhkan prasyarat tertentu dapat menjadikannya efektif. Komunikasi merupakan peristiwa sosial yaitu peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain. Hovland, Janis, dan Kelly dalam Jalaluddin, 2008:3 mendefinisikan komunikasi sebagai he process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (ussualy verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience).  Komunikasi yang dilakukan melalui lambang verbal (kata-kata) hendaknya memberikan stimulus kepada audiens dalam interaksi yang dilakukannya. Bila individu-individu berinteraksi dan saling mempengaruhi, maka terjadilah proses belajar yang meliputi aspek kognitif (berfikir) dan afektif (merasa), proses penyampaian dan penerimaan lambang-lambang atau disebut komunikasi, dan mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, bermain peran, identifikasi, proyeksi, agresi, dan lain-lain.

Lebih lanjut, dalam konteks pembelajaran, komunikasi antara guru dan siswa dituntut menghasilkan proses transfer nilai dan pengetahuan. Keduanya merupakan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dalam setiap proses pembelajaran di kelas yang tentu tidak akan berhasil manakala guru siswa membatasi diri dalam berkomunikasi. Artinya, guru tidak harus selalu menjadi pihak yang dominan yang berperan sebagai pemberi informasi saja tetapi guru juga harus memberikan stimulus bagi siswa agar tergerak lebih aktif. Komunikasi yang dilakukan guru harus mampu menggugah motivasi siswa untuk terlibat mengisi dan menemukan makna pembelajaran.

Siswa akan menjadi lebih aktif ketika mereka memiliki rasa kebersamaan di kelas tersebut (sense of kolektive). Rasa kebersamaan ini dapat dibina dari komunikasi yang dilakukan guru ataupun siswa yang lain agar dirinya merasa di terima (Sense of membershif). Perasaan diterima inilah sebagai salah satu komponen yang dapat menumbuhkembangkan siswa. Ketika seseorang diterima, dihormati, dan disenangi orang lain dengan segala bentuk keadaan dirinya, maka mereka akan cenderung untuk meningkatkan penerimaan dirinya. Oleh sebab itu, guru harus mampu bersikap luwes dan terbuka dalam kegiatan pembelajaran, menunjukkan sikap terbuka terhadap pendapat siswa dan orang lain, sikap responsif, simpatik, menunjukkan sikap ramah, penuh pengertian dan sabar. Dengan terjalinnya keterbukaan, masing-masing pihak merasa bebas bertindak, saling menjaga kejujuran dan saling berguna bagi pihak lain sehingga merasakan adanya wahana tempat bertemunya kebutuhan mereka untuk dipenuhi secara bersama-sama.

Melawan Mitos

Beberapa pihak tentu kemudian berdalih bahwa kedekatan guru dengan siswa dapat berujung pada pengistimewaan guru. Atau kadang ada yang beranggapan bahwa nantinya siswa akan lebih patuh dengan guru dibanding kepada orang tua mereka. Tentu tulisan ini tidak akan berspekulasi dengan semua anggapan tersebut. Sebab komunikasi yang kita perlu bangun adalah komunikasi pembelajaran yang efektif. Komunikasi efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Setiap kali guru melakukan komunikasi, sebenarnya bukan hanya sekedar menyampaikan isi pesan tetapi juga membangun sebuah hubungan interpersonal. Menurut Jalaluddin 2008 : 13, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan.

Pengertian. Komunikasi yang dilakukan guru pada siswa harus menimbulkan pengertian. Pengertian disini menyangkut penerimaan yang cermat pada isi pesan, ide, atau gagasan seperti yang dikemukankan oleh guru. Kegagalan dalam menerima isi pesan secara cermat dapat menimbulkan kesalah pahaman. Maka, ketika guru mengkomunikasikan materi, gagasan, ataupun penanaman konsep, guru harus memberikannya sejelas mungkin dan sebisa mungkin peduli pada pemahaman siswa.

Kesenangan. Tidak semua komunikasi yang dilakukan guru ditujukan untuk penyampaian materi atau gagasan agar membentuk pengertian dari siswa. Tetapi juga digunakan untuk membentuk kesenangan pada siswa dalam mengikuti pembelajaran yang nantinya dapat menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar.

Mempengaruhi sikap.  Guru melalui komunikasi persuasif dapat mempengaruhi siswa untuk melakukan hal-hal yang positif. Misalnya : mengajak untuk berkonsentrasi selama pembelajaran, mengajak untuk mencintai materi yang dibahas. Telah dikatakan diatas bahwa komunikasi tidak hanya untuk aspek kognitif saja tetapi juga aspek afektif. Guru yang dapat mempengaruhi sikap siswa selama pembelajaran dapat meningkatkan perhatian dan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran.

Hubungan yang makin baik.  Komunikasi interpersonal yang dilakukan dapat mempengaruhi hubungan interpersonal guru dan siswa. Dalam menumbuhkan siswa, guru harus mengadakan relasi yang lebih dekat dengan siswa. Relasi yang dekat ini dapat didukung dengan adanya komunikasi yang baik. Misalnya : guru tidak memberikan judgement bahwa siswa ini cantik, pintar, bodoh, dll. Guru harus memberikan apresiasi pada siswa ketika mereka memberikan jawaban atas pertanyaan dan tidak menolak jawaban yang dikemukakan siswa, Dengan mengetahui kebutuhan siswa bahwa mereka ingin diterima di kelas, maka guru harus menciptakan iklim yang kondusif di kelas dimana siswa yang satu harus berhubungan baik dengan siswa yang lainnya. Komunikasi inilah yang dapat menimbulkan relasi guru dan siswa menjadi lebih hangat, dekat, dan menyenangkan. Disini, komunikasi interpersonal menjadi kunci terbentuknya hubungan yang lebih baik.

Tindakan.  Efektivitas komunikasi guru diukur dari tindakan nyata yang dilakukan oleh siswa. Untuk menciptakan tindakan nyata pada siswa, guru harus lebih dulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap, serta menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik. Jadi, terbentuknya tindakan nyata pada siswa adalah titik akhir dari jaringan komunikasi yang dilakukan untuk menumbuhkembangkan siswa. Norma-norma yang ditanamkan pada siswa akan diaktualisasikan siswa secara nyata jika dikomunikasikan guru dengan baik. Misalnya : mengajak untuk rajin belajar, lebih rajin membaca, dan bersikap aktif saat pembelajaran. Maka, dalam hal ini siswa harus ditanamkan dulu empat komponen diatas.

Jadi, komunikasi yang dilakukan guru di kelas dapat menumbuhkembangkan siswa jika komunikasi tersebut dilakukan secara efektif dan menyenangkan, dengan memperhatikan unsur-unsur diatas, yaitu : terbentuk pengertian yang cermat, terciptanya kesenangan, mempengaruhi sikap, tercipta hubungan interpersoanal yang makin baik, dan terbentuknya tindakan positif pada siswa. Dengan kelima unsur ini, maka guru dapat menumbuhkembangkan siswa baik menumbuhkan motivasi belajar, penerimaan diri, dan prestasi yang lebih baik.

Akhirnya bagi yang masih beranggapan bahwa membatasi diri akan berdampak positif terhadap interaksi belajar guru dan siswa perlu berubah. Sebab sebuah survey nasional terhadap 1.000 siswa berusia 13 17 tahun menyebutkan bahwa beberapa karakter penting yang harus dimiliki guru adalah selera humor yang baik yang mampu membuat siswa tertarik dan menyukai pelajaran yang diajarkan (Santrock 2004 dalam Kristiandi 2009:15). Guru yang diharapkan  di  masa  mendatang  adalah  guru  yang  dapat  berkedudukan sebagai pendidik, sahabat, dan orang tua bagi anak didiknya. Guru adalah seorang  aktor  yang  harus  dapat  menghayati  peran  yang  dibebankan kepadanya,  kapan  ia  harus  berperan  sebagai  guru,  sahabat  ataupun orangtua  bagi  anak  didiknya.

Kewibawaan  guru  bukan ditentukan  oleh  kedekatannya  dengan  anak  didik,  tetapi  lebih  ditentukan oleh  kepandaiannya  menempatkan  diri  dalam  fungsinya  sebagai pendidikan.  Dengan kata  lain,  bila  dalam  melaksanakan  tugasnya  guru bersikap adil dan bijaksana dalam segala aspek yang berhubungan dengan proses pembelajaran, maka sudah pasti anak didik akan tetap hormat dan segan kepada guru tersebut. Mengingat, pembelajaran bukan hanya berkisar pada upaya untuk disenangi atau ditakuti siswa, tetapi lebih merupakan proses membangun kesan. Perasaan terkesan pada guru menyebabkan anak didik antusias dan bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini akan membawa dampak  positif  bagi  peningkatan  prestasi  belajarnya,  sebab  kesan  yang mendalam  dapat  memunculkan  minat  untuk  mengkaji  materi  yang disampaikan  guru.  Semoga kita semua bisa berubah menjadi lebih baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s