Pendidikan Krisis Percaya Diri

PDTernyata Ujian Nasional hingga tahun 2013 tetap menjadi persoalan yang sangat istimewa bagi masing-masing sekolah di Indonesia. Meski hanya akan berlangsung dalam hitungan hari, sejumlah sekolah merasa perlu melakukan banyak persiapan. Mulai dari persiapan akademis, dari menggelar uji coba alias try out, hingga ada pula yang sudah mengadakan bimbingan belajar bagi para siswa, untuk meningkatkan kemampuan penguasaan materi siswa dalam mengerjakan soal-soal persiapan Ujian Nasional. Hingga di luar persiapan yang bersifat akademis, seperti kegiatan doa bersama, berziarah ke makam, hingga memberikan doa-doa pada alat tulis sekolah yang akan digunakan siswa. Tetapi apakah kondisi ini hanya dilatar belakangi oleh inovasi Ujian Nasional Tahun 2013?

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Ujian Nasional tahun ini akan diterapkan 20 paket soal Jumlah ini bertambah banyak daripada pelaksanaan UN di tahun sebelumnya yang hanya 5 paket soal. Penggunaan 20 paket soal ini menurut Kemendiknas, bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas hasil UN. Dengan bertambah banyaknya jenis soal dalam UN, potensi tindak kecurangan akan semakin sempit. Pasalnya, masing-masing siswa akan mengerjakan soal berbeda karena umumnya setiap ruang ujian diisi oleh 20 peserta ujian.

Sejalan dengan itu, aturan ketat yang diterapkan dalam UN juga dimaksudkan untuk membentuk kepercayaan masyarakat pada proses dan hasil UN. Karena ke depannya, pemerintah akan mengintegrasikan hasil UN tingkat SMA sebagai tiket masuk ke perguruan tinggi negeri. Untuk itulah Ujian Nasional kali ini, akan jauh lebih ketat daripada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini, untuk meningkatkan kualitas hasil UN. Pasalnya, tahun ini hasil UN akan menjadi salah satu pertimbangan Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SMNPTN). Masih dengan dalih ingin meningkatkan kejujuran hasil UN malah sanksi tegas akan diberlakukan agar UN kali ini benar-benar bersih dan jauh dari kecurangan dari pihak Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Sanksi dikelompokkan dari mulai sanksi ringan, sedang, hingga berat. Misalnya tindakan pelanggaran yang masuk dalam kategori pelanggaran ringan, seperti meminjamkan alat tulis ketika ujian tengah berlangsung.

Pelanggaran sedang, seperti membuat kegaduhan saat ujian dan membawa handphone ke atas meja ujian. Sedangkan yang masuk dalam kategori pelanggaran berat adalah jika siswa tertangkap tangan mencontek, bekerjasama dan memiliki kunci jawaban. Sanksi tegas dari mulai teguran hingga sanksi tidak boleh melanjutkan ujian akan diterapkan bagi siswa yang melanggar. Sanksi keras juga berlaku bagi pengawas yang ketahuan merokok, tertidur, dan lalai membuka amplop yang berisi kertas soal dan jawaban di luar ruangan kelas.

Krisis Percaya Diri

Melihat relasi Ujian Nasional dan perilaku sekolah dalam menyikapinya, terlihat sekali adanya persoalan serius di internal sekolah dan pribadi siswa kita hari ini. Masihkah kita ingat, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2010/2011 juga ditengarai adanya kecurangan  seperti  terjadinya  kasus contek masal (Jawa pos, 18 Juni 2011) dan kasus rapor ganda (Suara Merdeka, 5 juli 2011) dalam rangka mendongkrak kelulusan. Kecurangan ini  menunjukkan adanya krisis percaya diri pada peserta didik dan oknum guru yang mestinya berperan sebagai pendidik.  Belum lagi apa yang tidak dapat dipungkiri adalah fakta bahwa sekolah-sekolah kita menghadapi banyak masalah.

Mendiknas Moh Nuh dan Wamennya, Musliar Kasim melihat suasana belajar yang dihadapi anak-anak kita sudah tidak kondusif. Beban mata pelajaran sudah berlebihan, anak-anak semakin hari semakin stress. Tetapi, memperbaharui gedung saja tak cukup untuk mengusir hantu-hantu yang membuat anak-anak sering kesurupan menjelang ujian nasional. Sebab fenomena di sekolah tetap sama: masih banyak sekolah yang metodenya sudah tidak fun. Banyak guru-guru di sekolah kota hingga di daerah terpencil lebih ingin membantu agar anak-anak siap menghadapi UN, dari pada menumbuhkan kegembiraan dalam belajar. Bukannya mengajak mereka bermain atau menumbuhkan kecerdasan-kecerdasan relasionalnya lebih baik ajarkan matematika, bahasa Indonesia, fisika, dan bahasa Inggris.

Hal ini yang kemudian menumbuh subur “bibit kecemasan” dalam diri guru dan siswa di sekolah. Meski kecemasan adalah hal yang amat wajar dirasakan oleh setiap manusia. Setiap orang pasti pernah merasakan kecemasan. Apalagi ketika sedang menghadapi ujian. Demikian halnya dengan para siswa/siswi. Kecemasan yang mereka rasakan adalah salah satu bentuk emosi yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu. Jika bentuk kecemasan yang mereka rasakan dengan intensitas yang wajar maka akan berdampak positif yaitu dapat memotivasi mereka untuk lebih giat belajar, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru malah akan menimbulkan kerugian bahkan mengganggu keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan misalnya membuat mereka stress dan malas belajar.

Perlakuan istimewa dengan keberadaan UN sekaligus tentang bagaimana menghadapinya, telah menjadi beban psikologis yang harus ditanggung guru dan siswa. Padahal apabila sistem pendidikan kita bisa fair terhadap realitas yang ada tentu tidak perlu ada persiapan khusus menjelang UN. Sarana prasarana fisik yang memadai, buku-buku dan akses pengetahuan, kualitas guru hingga obyektifitas penyelenggaraan pendidikan setidaknya menjadi tolok ukur dapat berjalannya sistem yang fair tersebut. Namun hal ini belum dapat diwujudkan segera disebabkan karena keterbatasan anggaran. Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Harus kita sadari bahwa pihak yang mendukung  ataupun pihak yang tidak mendukung pelaksanaan UN  sama-sama memiliki keinginan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang untuk mewujudkannya perlu kerjasama semua pihak. Oleh sebab itu maka semua pihak hendaknya dapat berperan maksimal dan fungsinya masing-masing dan berhenti menyalahkan. Demikian halnya dengan guru dan orang tua, keduanya jangan lagi memperdebatkan siapa yang paling bertanggungjawab sebab mereka juga anak-anak kita. Untuk mereka sebagai guru dan orang tua perlu kita bangun “kecerdasan bantu” untuk menambah dan mengurangi. Kecerdasan untuk tidak memperdebatkan siapa yang benar tetapi langsung bertindak mengatasi permsalahan yang ada. Guru dan orang tua harus memiliki kecerdasan untuk menambah kepercayaan diri anak-anaknya. Anak-anak harus diajarkan tentang pentingnya proses daripada hasil. Tentang pentingnya menjadi driver daripada follower, untuk aktif berperan dan terlibat daripada duduk pasif sebagai penonton. Menambah kemandirian anak untuk mengambil keputusannya sendiri. Agar setiap anak memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai pribadi dan pelajar, self-regulated learner.

Mengajarkan budaya mengurangi ketakutan untuk berbeda meski itu baik. Menerima keberagaman sebagai kerjasama untuk mencapai tujuan bukan keseragaman yang mustahil, agar anak belajar tentang toleransi dan penghargaan terhadap orang lain. Mengurangi ketakutan untuk menjadi gagal. Belajar tentang pentingnya kegagalan untuk tidak terlena atas keberhasilan yang sempat diperoleh. Mengurangi diskriminasi pendidikan yang lazim kita lakukan pada mereka yang dalam anggapan kita tidak mampu. Padahal mereka membutuhkan guru dan orang tua untuk membantu mereka mencapai cita-citanya.

Kecerdasan ini bukan hal baru, tetapi entah mengapa hanya sekedar dibiarkan berlalu oleh para guru dan orang tua. Padahal, kita butuh anak-anak kita akan menjadi anak-anak yang kuat, siswa-siswa kita menjadi siswa yang jujur dan berani, dan kita butuh mereka menjadi anak-anak yang mandiri. Maka keyakinan para guru dan orang tua adalah mutlak adanya, untuk menjadikan semua menjadi nyata adanya. Keyakinan bahwa tidak ada pembaruan yang instant.  Seperti yang disampaikan Renald Kasali, bahwa pembaruan itu prosesnya dari penghancuran dahulu, lalu kekacauan, baru pertobatan, dan perbaikan-perbaikan.  Jadi biarkan saja yang mau ikut, yang mau biar jalan dulu. Pioner ya jalan dulu, mereka bisa dapat keahlian lebih awal. Lalu mari kita ramai-ramai perbaiki. Ayo perbaiki. Jangan mengolok-olok. Seperti kata pepatah:In the end everything will be okay. Lantas bagaimana kalau saat ini tidak okay. Ah, itu artinya its not the end yet.

Sumber gambar: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s