Akuntansi Antara Spiritualisme dan Pragmatisme

SpiritualismMenurut Shariati dalam Agustian (2005: 16), manusia adalah makhluk dua-dimensional yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau Spiritual Quotient (SQ). Namun, selama ini pendidikan akuntansi diakui atau tidak hanya terpaku untuk mengasah kecerdasan intelektualnya  saja  (Triyuwono, 2010). James (2008) dan  Kamayanti (2010)  juga mengungkapkan hal yang serupa yaitu, “fokus rasionalitas pendidikan akuntansi ini membentuk ciri maskulinitas”. Sehingga tuntutan dari lingkungan sosial ini membentuk siswa dengan sendirinya membentuk sebagai peserta didik memahami ilmu dengan sudut pandang intelektualnya saja. Dampak pendidikan yang hanya berpusat pada kecerdasan akal saja dapat dilihat dari perilaku dan sifat siswa, dalam mengambil keputusan dengan terlalu mempertimbangkan berapa materi yang akan dikorbankan dan apa benefit yang akan didapat dari keputusan tersebut. Hal ini didukung oleh temuan Mulawarman (2006, 2007), Triyuwono (2010) dan dalam Kamayanti (2012) yang mengatakan hal inilah yang membentuk calon-calon akuntan bercirikan rasionalis, antroposentris/egois, apatis, tidak peka keadaan sekitar (impersonality), objektif dan keringakan nilai-nilai spiritualitas. Secara umum, sifat yang dihasilkan adalah individualis, materialistis dan terpaku pada pemikiran yang logis.

Pelajaran yang sangat penting adalah menyatunya dunia fisik dengan dunia psikis dan spiritual. Peradaban dunia  modern  selalu  mengakui  materi  sebagai “yang pusat” (at au menganggapnya  sebagai  “Gusti”),  dan  sebaliknya  memandang  remeh,  memarjinalkan,  dan bahkan meniadakan sesuatu yang di pinggiran (“kawulo”), yaitu “sing liyan” (the others). Sing liyan dalam konteks ini adalah dunia psikis (mental) dan spiritual. (Triyuwono, 2007). Triyuwono 2007 mencoba memaparkan pada tataran ilmiah esensi ajaran  Manunggaling Kawulo-Gusti dari Syeikh Siti Jenar:

“kemanunggalan” (unity) atas dua hal atau lebih yang berbeda. Misalnya kemanunggalan manusia (sebagai mahluk) dengan Tuhan (sebagai Sang Pencipta), kemanunggalan suka dengan duka, kemanunggalan benar dengan salah, dan lain-lainnya. [Dua] hal yang berbeda tersebut tidak saling meniadakan (mutually exclusive), tetapi sebaliknya saling- menyatu [mutually inclusive]

Selama ini banyak berkembang dalam masyarakat sebuah pandangan stereotip, dikotomisasi antara dunia dan akhirat. Dikotomisasi antara unsur-unsur kebendaan dan unsur agama, antara unsur kasat mata dan tak kasat mata. Materialisme versus orientasi nilai-nilai Ilahiyah semata. Mereka yang cenderung memilih keberhasilan di alam “vertikal” cenderung berpikir bahwa kesuksesan dunia justru adalah sesuatu yang bisa “dinisbikan” atau sesuatu yang bisa demikian mudahnya “dimarjinalkan”. Hasilnya, mereka unggul dalam kekhusyu‟an dzikir dan kekhitmatan berkontemplasi, dalam kata lain menjadi seorang petapa, namun menjadi kalah dalam akancah ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, politik dan perdagangan di alam “horizontal”. Begitupun sebaliknya  yang  berpijak  hanya  pada  alam  kebendaan,  kekuatan  berpikirnya  tak  pernah diimbangi  oleh  kekuatan  dzikir,  berujung  pada  egoisme  dan  materialistis.  Sehingga  wajar menurut  penulis  jika  Ary  Ginanjar  Agustian  menyatakan  dalam  bukunya  bahwa  “Realitas kebendaan yang masih membelenggu hati, tidak memudahkan baginya untuk berpijak pada alam fitrahnya (zero mind)”.

Prinsip Keseimbangan

Sebenarnya konsep kecerdasan yang menyeluruh sudah menjadi cita-cita mulia bangsa kita, terbukti dalam Undang-Undang No. 20 Tahun  2003 tentang tujuan Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dengan adanya Undang-Undang tersebut, maka dari waktu ke waktu bidang pendidikan yang didasarkan kepada pengembangan moral serta etika yang mengedepankan keikutsertaan penerapan religiuitas yang tidak hanya sebatas penyampaian ilmu, haruslah menjadi prioritas dan menjadi orientasi untuk kemudian diusahakan penyediaan sarana dan prasarananya sehingga akan meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari suatu pendidikan akuntansi yang mengarah kepada basis keseimbangan (La‟lang, 2010).

Sebenarnya  isi  dari  Undang-Undang  tersebut  sudah  sarat  akan  makna  keseimbangan tersebut, tetapi kenyataannya pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan akuntansi yang berkembang selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang: integritas; kejujuran; komitmen; visi; kreatifitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip kepercayaan; penguasaan diri atau sinergi, padahal justru inilah hal yang terpenting. Mungkin kita bisa melihat hasil dari bentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia era 2000 yang patut dipertanyakan, yang berbuntut pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini ditandai dan dimulai dengan krisis moral atau buta hati yang terjadi di mana-mana. Mengapa hal ini terjadi? Karena menurut Mulawarman (2008) sistem pendidikan saat ini telah lepas dari realitas masyarakat Indonesia dan dibawa langsung dari “dunia lain” (baca: Barat) yang memiliki nilai-nilai Indonesia sendiri tanpa kodifikasi dan penyesuaian yang signifikan. Akuntansi merupakan produk yang dibangun dari nilai-nilai masyarakat dimana akuntansi dan sistem akuntansi dikembangkan (lihat misalnya Hines 1989; Morgan 1989; Mulawarman 2006 dan banyak lainnya). Akuntansi dan sistem pendidikan akuntansi menurut Mulawarman (2008) memang membawa values (nilai-nilai) “sekularisasi” yang memiliki ciri utama self-interest, menekankan bottom line laba dan hanya mengakui realitas yang tercandra (materialistik) (Mulawarman, 2012).

Pendidikan akuntansi semacam ini tentu membawa konsekuensi pada praktik akuntansi. Hal yang menarik telah dipaparkan oleh Irianto mengenai praktik-praktik akuntansi yang berjalan selama ini tidak sedikit menimbulkan permasalahan. Irianto (2003, 2006) dalam La‟lang (2010) memaparkan dengan seksama hal ini. Sebut saja skandal kebangkrutan Enron yang turut menjadi skandal terbesar dalam sejarah akuntansi. Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar. Hal ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dengan trik-trik manipulasi yang tinggi dan tentu saja orang-orang ini merupakan orang bayaran  dari  mulai analis keuangan,  para  penasihat  hukum,  dan  auditornya.  Ini  disebabkan karena  adanya   unsur   kebohongan   yang  dilakukan   pada   sebuah   sistem   terbuka,   terjadi pelanggaran terhadap kode etik berbagai profesi seperti akuntan, pengacara, dan lain sebagainya, dimana segelintir professional tersebut serakah dengan memanfaatkan ketidaktauan dan keawaman banyak orang, serta praktek persekongkolan tingkat tinggi. Ini tentu menunjukkan bahwa manusia sebagai pelaku sudah tidak lagi berada dalam koridor akhlak serta moralitas sebagai kehendak Tuhan sehingga hidup berdasarkan “takut akan Tuhan” mulai memudar sejalan dengan masa modernisme yang kian menjulang.

Diakui atau tidak, selama bertahun-tahun dunia akuntansi sebagai salah satu aspek pendidikan, seakan terpasung di persimpangan jalan, tersisih di antara hiruk-pikuk dan hingar bingar ambisi penguasa yang ingin mengejar pertumbuhan dan daya saing bangsa. Pendidikan akuntansi seolah tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara “utuh” dan “paripurna”, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat materialistis, ekonomis dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan budi pekerti. Pendidikan akuntansi lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati, perasaan, emosi dan spiritual. Akibatnya, apresiasi output pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran budi, dan budi nurani, menjadi nihil (La‟lang, 2010).

Wajah Baru Pembelajaran Akuntansi di Kelas

Saya memperhatikan proses belajar-mengajar di kelas, memang Siswa “disodorkan” oleh berbagai jenis teori, dan tentunya semua itu terpaku pada textbook sehingga “menghipnotis” siswa untuk mempunyai pemikiran yang cenderung kaku. Penelitian Davidson dan Baldwin (2005) dalam Setiawan dan Kamayanti (2012) menyimpulkan bahwa di AS, praktik pendidikan akuntansi 100% bertumpu pada accounting textbooks. Ditambah lagi kondisi bahwa tipe perkuliahan lebih disukai; situasi di mana dosen menganggap pengetahuan yang disampaikan adalah “kado/hadiah (gift)” kepada siswa (Setiawan dan Kamayanti, 2012). Mayoritas siswa memahami akuntansi adalah suatu cara agar entitas dapat menghimpun kekayaan sebesar-besarnya, beranggapan bahwa yang lebih banyak bekerja berarti yang lebih banyak mendapatkan hasilnya, tanpa memikirkan pihak-pihak yang dirugikan atas tindakan yang telah dilakukan. Setiawan dan Kamayanti (2012) mengutip dari Powell and Dimaggio (1997:63), Max Weber menyatakan bahwa rasionalisme menjadi penjara (iron cage) yang mengekang unsur kemanusiaan. Terbukti pernyataan Max Weber terjadi dalam pendidikan akuntansi, berdampak pada pemahaman siswa terhadap akuntansi. Segala sesuatu diukur dengan satuan uang, sehingga menghasilkan sifat materialistis. Bahkan ada pula siswa yang memahami bahwa akuntansi merupakan sebuah alat politis yang menjadikan perantara untuk memaksimalisasi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Sebagaimana dikutip dari Triyuwono (2009), angka-angka adalah salah satu bentuk logosentrisme dari akuntansi mainstream. Bahkan menurut pandangan Hines  (1989)  tanpa  angka  adalah  suatu  hal  yang  sangat  mustahil  bagi  akuntansi,  dan implikasinya adalah tanpa akuntansi kita tidak dapat menggambarkan keadaan perusahaan. Logosentrisme ini terutama dicirikan dengan: pertama, pola berpikir oposisi biner (dualistik, dikhotomis) yang hierarkis, dan kedua ilmu pengetahuan positivistis yang mekanis, linier dan bebas-nilai.   Dengan   demikian   dapat   dimengerti   bahwa   logosentrisme   sebagai   produk modernisme  mempunyai  ciri  “penunggalan”  melalui  universalitas.  Konsekuensi  dari penunggalan ini adalah bahwa “sang lain” (the others) yang berada di luar dirinya akan selalu disubordinasikan,  dieliminasikan,  dan  jika  mungkin  harus  “dibunuh”.  Dari  gambaran  diatas dapat ditarik suatu kesimpulan sederhana bahwa akuntansi hanyalah sebuah “alat” bantu untuk mengkalkulasi angka-angka (baca: uang) yang nantinya berakhir pada pengambilan keputusan ekonomi.

Setiap manusia mempunyai suara hati yang sejatinya menyuarakan kebenaran dalam bertingkah laku, tetapi suara hati tersebut bertentangan dengan mindset yang telah mengakar dan karena tuntutan keadaan. Agustian (2005:40) melanjutkan, kebenaran sejati, sebenarnya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center ini, yang tidak bisa ditipu oleh siapa pun, atau oleh apa pun, termasuk diri kita sendiri. Mata hati ini dapat mengungkap kebenaran hakiki yang tak tampak di hadapan mata. Bahkan kata ahli sufi Islam Jalaludin Rumi, “Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada dua indera penglihatan”.

Menurut Cooper (1998) dalam Agustian (2005:40), “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak, atau tidak dapat, di ketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.”

Pendidikan agama yang semestinya dapat diandalkan dan diharapkan bisa memberi solusi bagi permasalahan hidup saat ini, ternyata lebih diartikan atau dipahami sebagai ajaran fiqih. Tidak untuk dipahami dan dimaknai secara mendalam, dan lebih condong pada pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, tanpa ada kesadaran diri untuk mengintegrasikan keduanya dalam bertingkah  laku.  Sejak  saya  duduk  di  bangku  Sekolah  Dasar,  sampai  Sekolah  Menengah Pertama, memang pelajaran Agama menjadi mata pelajaran yang wajib, tetapi hanya bentuk hafalan, tanpa dipahami maknanya secara mendalam. Unsur intuisi, rasa, emosi serta kesadaran Ketuhanan (spiritualitas) menjadi sesuatu yang terpinggirkan, termarginalkan (untuk tidak mengatakan dihilangkan sepenuhnya) (Setiawan dan Kamayanti, 2012). Padahal dari sinilah seharusnya pembentukan jiwa sosial, kecerdasan emosional dan spiritual yang sebenarnya.

Kemudian di tengah kemirisan tersebut, masuklah buku-buku dan ajaran modern barat ke Indonesia. Secara  tidak  langsung  buku-buku  tersebut  “menghipnotis”  pemikiran  manusia,  dan  semakin menyamarkan suara hati yang sebenarnya sangat dekat dengan dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak terjamah, namun sebenarnya sudah mereka kenal sejak lahir. Suara hati yang bersumber dari Ilahiyah sebagai perwujudan kecerdasan Emosi dan Spiritual dari Sang Pencipta yang tak pernah d isadari walau sebenarnya berada sangat dekat dengan dirinya. Menurut Adnan (1998) dalam Agustian (2005:40), “Hati Nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan diperbuat.” Artinya, setiap manusia sebenarnya telah memiliki sinyal-sinyal dalam hatinya sebagai pembimbing dalam segala aktivitas yang dilakukan.

Persoalannya yang ada kemudian adalah apakah sudut pandang spiritual akuntansi ini sudah difahami oleh para guru. Ataukah masih terlampau jauh pemikiran untuk melibatkan spiritualitas dalam memahami akuntansi. Meski pada akhirnya akan perubahan perilaku dan karakter, karena sifat-sifat yang membelenggu suara hati akan melemah dan siswa secara individu dapat membawa manfaat bagi kehidupan sosialnya.

Sumber gambar: http://henkykuntarto.files.wordpress.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s