Moral Matematika dan Kepandaian Mengantri

MathDari posting seorang teman difacebook menyebutkan, bahwa seorang guru di Australia pernah berkata: “Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya. Inilah jawabannya: Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri) Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain, dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Membelajarkan keterampilan sosial

Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita simpulkan bahwa guru-guru di Australia amat meyakini pentingnya membelajarkan keterampilan atau kompetensi social sedini mungkin. Terlebih, kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Inilah kompetensi sosial yang sebenarnya juga harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen, yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya. Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik, kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. Beberapa dimensi ini, misalnya, dapat kita saring dari konsep life skills (www.lifeskills4kids.com). Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu, ada 15 yang dapat dimasukkan ke dalam dimensi kompetensi sosial,yaitu: (1) kerja tim, (2) melihat peluang, (3) peran dalam kegiatan kelompok, (4) tanggung jawab sebagai warga, (5) kepemimpinan, (6) relawan sosial, (7) kedewasaan dalam bekreasi, (8) berbagi, (9) berempati, (10) kepedulian kepada sesama, (11) toleransi, (12) solusi konflik, (13) menerima perbedaan, (14) kerja sama, dan (15) komunikasi.

Anak usia dini adalah anak berada pada rentangan usia 0-8 tahun, dimana pada masa ini anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Hampr 80% kecerdasan anak mulai terbentuk, tahap awal pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai pada masa prenatal. Sel-sel tubuhanak berkembang amat cepat, tahap awal perkembangan janinsangat penting untuk mengembangkan sel-sel otak, bahkan pada saat lahir sel otak tidak bertambah lagi. Setelah lahir terjadi proses meilinasi dari sel-sel syaraf dan pembentukan hubungan antara sel syaraf, hal ini amat penting dalam pembentukan kecerdasan.

Masa usia dini disebutkan pula oleh para ahli (Montessori) sebagai “masa peka”, yang merupakan masa munculnya berbagai potensi tersembunyi (hidden potency) atau suatu kondisi dimanasuatu fungsi jiwa membutuhkan rangsangan tertentu untuk berkembang. Pertumbuhan sel-sel syaraf dan masa peka diperjelaslagi dengan munculnya masa eksplorasi. Hal ini mengingat bahwa kebutuhan sel syaraf untuk berkembang ditunjukkan oleh seorang bayi atau anak melalui aktivitas gerakan tangan, kaki, mulut, dan mata. Dijelaskan oleh para ahli bahwa pada rentang perkembangan 0-8 tahun muncul masa yang dinamakan dengan“masa trotz alter 1” atau disebut juga masa “membangkang tahap1”, hal ini terlihat terutama pada anak usia 3 sampai 6 tahun. Masa ini diperkuat dengan munculnya ‘ego’ (keakuan) yang merupakan cikal bakal perkembangan “jati diri” anak. Tindakan membangkang anak merupakan wujud bahwa keakuan anak muncul. Anak tidak selalu harus menurut pada apa yang diperintahkan orang dewasa, hal ini ditunjukkan dengan sikap atau tindakan menolak atau menunjukkan sikap/tindakan yang bertolak belakang dengan sikap/tindakan yang diinginkan oleh orang dewasa. Tumbuhnya ego/keakuan ini harus didukung oleh tindakan edukatif dari orang dewasa disekitarnya. Oleh sebab itu keberadaan guru menjadi penting, agar keakuan anak dapat berkembang ke arah terbentuknya konsep diri atau jati diri yang positif pada anak.

Tidak hanya Angka

Fenomena kelulusan yang telah menjadi sebuah lumrah bahkan wajib. Seolah telah mendesakralisasi proses pembelajaran yang harus dilalui seorang siswa di sekolah. Sebab meski kelulusan 100% menjadi sesuatu yang wajib dicapai setiap sekolah sehingga beragam cara dapat dilakukan untuk mewujudkannya. Kelulusan sekolah tidak lebih dari sekedar permainan angka (rumus matematika) untuk membuat seorang siswa memenuhi standar minimal untuk lulus. Meski pada bagian terakhir ini, masing-masing pihak baik dinas pendidikan dan sekolah sama-sama menyangkalnya. Semua pihak seolah menutup mata pada upaya permisif, yang telah jauh menggeser pendidikan kita lebih pada sekedar angka-angka tanpa makna. Padahal penghargaan siswa yang rendah terhadap proses “pembelajaran fair”atau terhadap guru (orang yang lebih tua) cukup memberi bukti bahwa pola pikir mereka telah lebih pragmatis daripada seharusnya.

Dalam dunia pendidikan tidak ada yang salah dengan standar nilai yang diberikan oleh negara. Sebab nilai memang bisa menjadi bukti kemampuan siswa dalam menangkap pelajaran-pelajaran yang dikonsumsinya. Namun, bahkan negara yang maju pun menyadari bahwa untuk mengembangkan suatu negara ke arah kemajuan, nilai tinggi tidaklah cukup untuk membekali para generasi bangsa, anak-anak sekolah mengemban tugas berat ini dimasa depan. Bukan nilai akademik yang akan pertama kali dilihat oleh masyarakat apalagi kurikulum yang diterapkan pada siswa-siswa sekolah. Semua pihak tentu akan sepakat bahwa yang dilihat dari seorang lulusan lembaga pendidikan adalah kelakuan-kelakuannya. Apakah kelakuan itu baik atau tidak, apakah sopan apa tidak, apakah hormat orang tua atau tidak, sopan bicaranya apa tidak, dll.

Ungkapan bijak, “berilah aku guru yang baik, dan dengan kurikulum yang kurang baik sekali pun aku akan dapat menghasilkan peserta didik yang baik”. Mengingatkan kita semua bahwa aspek kualitas hakim dan jaksa masih jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek undang-undangnya. Sehingga dalam hal yang sama, aspek guru masih lebih penting dibandingkan aspek kurikulum. Sama dengan manusia dengan senjatanya, yang terpenting adalah manusianya, “man behind the gun”. Pentingnya membelajarkan pengetahuan matematika tidak akan jauh lebih penting untuk membelajarkan “moralitas matematika” itu sendiri kepada anak didik kita disekolah.

Sumber gambar: http://sixth-grade-team.wikispaces.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s