1000%

kepedulianMereka terkenal karena inspiratif dan membuat orang mampu bersimpati terlibat dalam gerakan atau gagasannya. Kekaguman ini muncul pada tokoh-tokoh seperti Jusuf Kalla hingga Anies Baswedan,  tokoh yang lahir pada zamannya dan dalam idealismenya masing-masing. Memberi keyakinan bahwa bangsa ini masih memiliki harapan dari sekian data atau survey yang menunjukkan keterpurukan, yang hampir kesemuanya jauh dari memberikan kepercayaan diri. Dan pada era interaktif yang kaya akses ini, tokoh-tokoh ini bisa diakses kaum muda dari Aceh hingga Papua. Kultwit-nya diikuti banyak orang: akun @aniesbaswedan diikuti 385.000 orang pengikut sedangkan @Pak_JK memiliki pengikuti sekitar 700.000.

Twitter adalah salah satu media sosial yang menantang. Ketika banyak orang mengungkapkan ide sederhana secara rumit dan berpanjang lebar, Twitter justru berbeda. Di Twitter itu kita ditantang untuk mengungkapkan ‘what is happening’ atau apa saja yang ada dalam benak kita secara sangat singkat, dalam 140 karakter demikian yang pernah disampaikan oleh Anies Baswedan. Terlepas dari itu semua, kedua tokoh itu meyakini benar pentingnya mengajak dan memotivasi orang untuk tidak hanya bermimpi, atau berangan-angan, tetapi benar-benar bekerja, turun tangan, dan melampaui mimpi mereka. Sungguh jauh dari kondisi yang dapat kita saksikan di Indonesia saat ini.

Hasil riset Lingkaran Survei Indonesia-Yayasan Denny J.A. menunjukkan, sejak 1998 hingga 2012, terjadi hampir 2.400 kasus kekerasan diskriminasi—kebanyakan berbasis agama. Jika dirata-rata, tiap tahun ada 160 konflik. Atau, tiap 2-3 hari muncul satu konflik berlatar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan. Hal senada disajikan pula dalam laporan Setara Institute dan Wahid Institute bahwa kasus kekerasan berbasis agama meningkat sekitar 30 persen sejak 2009 hingga pertengahan 2013. Kemajemukan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan sekarang telah menjadi sesuatu yang paling mudah menyulut emosi masyarakat daripada pemersatu bangsa ini.

Disisi lain, pelaksanaan reformasi yang sudah berjalan selama 15 tahun tidak membuat kondisi hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih baik. Sebaliknya, semakin hari masyarakat semakin tidak puas dengan kinerja pemerintah terhadap pelaksanaan reformasi. Berdasarkan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengenai penilaian publik atas pelaksanaan reformasi yang berjalan selama 15 tahun, mayoritas publik ternyata makin pesimis dengan pelaksanaan aneka agenda reformasi. Hanya 31,4 persen publik yang menyatakan puas dengan pelaksanaan reformasi.

Hasil survei LSI juga menyatakan bahwa kepercayaan publik terhadap ketidakmampuan pemerintah dan politisi melaksanakan reformasi berada pada titik terendah. Sejak tahun 2008 sampai tahun 2013, jumlah kepuasan publik terus menurun hingga 14 persen. Tak hanya itu, buruknya para pemimpin dan politisi mengawal agenda reformasi berakibat pada buruknya persepsi publik terhadap dunia politik dan profesi politisi. Namun, kemunculan tokoh-tokoh seperti Jusuf Kalla hingga Anis Baswedan, menunjukkan bahwa survey yang ada hanya memotret apa yang telah terjadi, bukan apa yang telah dilakukan oleh sebuah generasi. Padahal sudah saatnya kita lebih berfikir pada apa yang sudah kita lakukan daripada mengkutuki keadaan, sebab itulah arti sebuah generasi dari sebuah bangsa seperti Indonesia.

Lahirnya Generasi Baru

Untuk membentuk sebuah generasi dibutuhkan kerjasama  dari tiga elemen dasar, sekolah, masyarakat dan keluarga. Dari ketiganya elemen yang dapat distandarkan adalah sekolah. Setiap sekolah tentu berkesempatan pertama menyeleksi calon siswanya dan menjadikan mereka sebagai kaum cerdik pandai. Sehingga sekolah yang sehat bukan hanya belajar dari buku, guru, dan laboratorium, melainkan juga cara rektornya memimpin dan memberi contoh. Di sekolah yang sehat tak hanya melahirkan orang pandai, tetapi juga panggilan pengabdian, kepedulian sosial, dan daya kreasi-inovasi. Wajar jika masyarakat berharap disekolah-sekolah hidup orang-orang yang mampu menjadi role model, mempunyai reputasi yang kuat, berwawasan, dan visioner.

Bagaimana sekarang? Belakangan ini kita justru mendengar keluhan siswa baru yang mengantuk mengikuti pembelajaran yang tidak menarik. Baik kepala sekolah, guru, maupun karya-karyanya sama-sama tak dikenal. Tidak ada yang mengetahui apa yang sudah dilakukan guru-gurunya, nilai-nilai yang diajarkan, selain kemewahan kendaraan sang guru, gadjet dan pakaian yang kerap ditampilkannya di sekolah. Seolah kita belum selangkah pun bergeser dari makna kekayaan dari istilah sertifikasi guru menjadi kesejahteraan guru. Bukankah guru ada karena siswa, dan kelak para siswa tersebut adalah guru pada zamannya. Student today leader tomorrow.

Sungguh jarang guru memiliki pemikiran seperti itu, sehingga masih saja ada diskriminasi perlakuan antara “siswa yang kritis“ dengan “siswa yang patuh”. Dan pada umumnya para guru akan lebih menyukai siswa yanga patuh daripada siswa yang kritis dan bahkan banyak bertanya. Padahal banyaknya pertanyaan bukankah ciri dari sebuah bentuk kecerdasan. Sebab hal yang terpenting bukanlah mengajarkan tentang kepatuhan itu kepada siswa, tetapi mengajarkan tentang pastinya ketidakpastian dalam hidup pasca mereka melewati gerbang sekolah. Kepatuhan bukanlah cermin keberhasilan, sebab siapapun siswa itu mereka akan hidup di masa yang berbeda dengan gurunya.

Sehingga sesuai dengan kultur Indonesia, hubungan guru dengan siswa tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan. Meski seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas (purna bhakti), hubungan dengan siswanya (mantan siswa) relatif masih terjaga. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu masih terbangun “sikap patuh pada guru” (dalam bahasa psikologi, guru hadir sebagai “reference group”). Meski secara formal, tidak lagi  menjalankan tugas – tugas keguruannya, tetapi hubungan batiniah antara guru dengan siswanya masih relatif kuat, dan sang siswa pun tetap berusaha menjalankan segala sesuatu yang diajarkan gurunya.

Rasa hormat (respect) ini lah yang sangat dipuji oleh guru – guru dari luar negeri yang bekerja atau sedang melakukan penelitian di Indonesia. Seperti yang dikatakan Emily Sullivan (2012) pada VIVA news, seorang pengajar dari Our Lady of Sacred Heart College – Adelaide, yang menyatakan “Saya melihat murid-murid Indonesia sangat menghormati guru mereka. Jujur, saya kaget dengan tradisi murid-murid mencium tangan saya sebagai bentuk penghormatan terhadap guru”. Lain lagi cerita Melanie Cross (2012), pengajar Waggrakine Primary School, Geraldton. “Murid-murid Indonesia sangat menyenangkan, mereka antusias! Kalau sudah di depan kelas, kadang saya merasa jadi selebriti”. Sehingga dari pengalaman mereka tersebut menunjukan bahwa pendidikan Indonesia mempunyai sosial dan budaya yang baik dan memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang diinginkan. Sebuah kombinasi pengajaran guru dan nilai-nilai social budaya, sebenarnya merupakan kemampuan lebih dari pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang menginspirasi dalam keteladanan, mengayomi, dan mendorong bakat-bakat setiap anak bangsa untuk berkembang.

Namun belakangan ini telah terjadi penurunan rasa hormat siswa terhadap guru. Siswa tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, seorang yang memberikan ilmu dan pengetahuan yang patut di hormati dan disegani. Seperti yang terjadi pada Januari 2010 seorang siswa berani menikam gurunya sendiri dengan senjata tajam. Siswa tersebut merasa tersinggung karena sang guru menasihatinya didepan teman – temannya oleh perbuatannya yang merugikan siswa lain (kompas : 2010).

Mulai dari “bullying” kejahilan konvensional, hingga “cyberbullying” yang menggunakan dunia maya atau sosial network sehingga semua orang bisa membaca dan memberikan komentar. Bahkan bukan antara siswa dengan siswa, efek dari menurunya rasa hormat tersebut berdampak pula pada guru dan sekolah yang dikenal dengan “cyberbaiting”. Dimana siswa merekam atau membuat tulisan yang berisi ejekan atau kata – kata tidak sopan terhadap seorang guru ataupun sekolah. Sehingga bisa menimbulkan pendapat negatif dari masyarakat yang belum tahu duduk masalah yang sebenarnya. Seperti yang dilakukan oleh tiga siswi di Malang dan delapan siswi di Bandung dengan “curhat negatif” di facebook tentang guru dan sekolahnya (Kompas : 2011).

Keberhasilan Pendidikan

Ing ngarso sung tulodo; Ing madyo mangun karsa; Tut wuri handayani. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin menurut Ki Hajar Dewantara. Dalam dunia pendidikan maka semboyan itu menggambarkan peran seorang guru atau pendidik. Kumpulan peran yang cukup lengkap, yaitu: menjadi teladan, memberikan semangat/motivasi, dan memberikan kekuatan Ing ngarsa sung tuladha, berarti seorang guru harus mampu menjadi contoh bagi siswanya,baik sikap maupun pola pikirnya. Anak akan melakukan apa yang dicontohkan oleh gurunya, bila guru memberikan teladan yang baik maka anak akan baik pula perilakunya.Dalam hal ini,guru harus selalu memberikan pengarahan dan mau menjelaskan supaya siswa menjadi paham dengan apa yang dimaksudkan oleh guru.

Ing madya mangun karsa, berarti bila guru berada di antara siswanya maka guru tersebut harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siswanya, sehinggga siswa diharapkan bisa lebih maju dalam belajar. Jika guru selalu memberikan semangat kepada siswanya, maka siswa akan lebih giat karena merasa diperhatikan dan selalu mendapat pikiran – pikiran positif dari gurunya sehingga anak selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada kondisinya saat ini. Disisi guru, semboyan ini ditunjukkan dengan sibuknya guru melakukan inovasi dan mengembangkan materi pelajarannya tanpa terbatas pada kurikulum yang ada.

Tut wuri handayani berarti, apabila siswa sudah paham dengan materi, siswa sudah pandai dalam banyak hal maka guru harus menghargai siswanya tersebut. Guru diharapkan mau memberikan kepercayaan bahwa siswa dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Guru tidak boleh meremehkan kemampuan siswa. Semboyan ini diwujudkan dengan pemberian tugas, ataupun belajar secara mandiri atau pengayaan. Jika dimasukkan dalam konteks kepemimpinan maka semboyan tersebut akan menciptakan seorang pemimpin yang disegani dan berwibawa karena menggambarkan seorang pemimpin yang mampu menempatkan diri dimanapun dia berada namun tetap berwibawa.

Pemimpin seperti ini disebut John Maxwell (2006) sebagai penjaga kursi yang berada dalam tangga kepemimpinan terbawah. Maxwell mengatakan, ” They don’t care how much you know until they know how much you care.” Keberhasilan sebuah pendidikan adalah ditandai dengan tumbuhnya jiwa kepedulian siswa atas apa yang diajarkan gurunya. Bukan dari banyaknya pengetahuan yang telah  mereka dapat dari para guru mereka. Pertanyaan yang tersisa adalah berapa banyak orang-orang seperti Jusuf Kalla hingga Anies Baswedan yang telah lahir di Indonesia. 1000% pergantian kepemimpinan di negeri ini tidak akan memberikan perubahan berarti, tanpa lahirnya generasi baru yang memiliki kepedulian kepada negeri dan bangsa ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s