Kamp Konsentrasi

schoolkampBeberapa waktu belakangan ini, tepatnya di Tahun 2009 Kepolisian Republik Indonesia sempat disibukkan  dengan ajaran Satrio Piningit Weteng Buwono yang menghebohkan, ajaran ini dianggap menyimpang karena membolehkan hubungan bersama suami istri didepan peserta upacara. Terus, bagaimana kalau ada ajaran yang membolehkan ”mandi bersama” seperti di  tempat kami dulu atau ditempat-tempat lain?Tentunya, mandi bersama ini bukan ajaran sesat tetapi sekedar siasat beberapa siswa yang bangun kesiangan dan khawatir terlambat. Begitulah salah satu cerita dari seorang teman, saat mengawali diri menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), suatu profesi yang masih diimpikan oleh mayoritas orang di negeri ini.

Tentunya saya tidak menuliskan sepenggal cerita diatas dengan lengkap, karena pastinya akan banyak pihak yang keberatan dengan tulisan ini nantinya. Tetapi entah mengapa kondisi yang sama juga dialami oleh teman-teman yang lain, yang kebetulan menjalani hal yang sama. Fasilitas yang terbatas dan persoalan waktu, seolah mengharuskan kita semua untuk berlaku hal yang sama. Mungkin inilah yang sebenarnya ingin diajarkan dalam proses ini, tentang bagaimana kita bersikap terhadap kondisi yang ada dengan kondisi ideal yang seharusnya, sehingga pilihan untuk “mandi bersama” menjadi solusi yang secara sadar harus dilaksanakan. Tapi tentunya tidak semua melakukan hal tersebut, dengan bangun lebih pagi beberapa teman pun ternyata bisa melakukan hal yang wajar. Hal inilah yang mengingatkan kita tentang bagaimana kehidupan yang harus dijalani oleh mereka yang menghuni kamp konsentrasi perang dunia kedua.

Viktor Frankl, seorang tawanan di dalam kam konsentrasi selama Perang Dunia kedua, pernah berkata  “Kami yang hidup dalam kamp konsentrasi bisa mengingat orang-orang yang berjalan dari barak ke barak menghibur sesama, memberikan kepingan roti mereka yang terakhir. Jumlah mereka boleh jadi sedikit; tetapi itu cukup membuktikan  bahwa segalanya bisa dirampas dari seorang manusia kecuali satu hal: kebebasan manusiawi yang terakhir – memilih sikap kita dalam setiap situasi yang bagaimana pun, memilih cara kita sendiri.”  (Man’s Search for Meaning). Pilihan proaktif dari sikap kita adalah “kebebasan manusiawi yang terakhir”. Itulah! Kebebasan menentukan pilihan! Oleh kebebasan manusiawi yang terakhir itu pulalah, Viktor Frankl berhasil menciptakan teori psikologinya: “Logoterapi”. Tentunya bagaimana kita bersikap terhadap keadaan yang terkesan tidak ideal menjadi tolok ukur keberhasilan kita, tidak terkecuali apa yang sudah kita bahas diawal tulisan ini.

PNS yang direkrut dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda membawa konsekuensi logis terhadap pola pikir (mindset) mereka yang berbeda, untuk mendukung agar mampu melaksanakan tupoksi di unit kerjanya maka diperlukan mengubah pola pikir dirinya. Disamping itu adanya image negatif yang telah tertanam dalam diri PNS seperti PNS cenderung Korupsi, indisipliner, PGPS (Pinter Goblok Pendapatan Sama), dan lain – lain. Image yang demikian akan mmbentuk pola pikir PNS yang negatif dan ini berarti akan berpengaruh terhadap konsep diri PNS, oleh karena itu sangat diperlukan perubahan pola pikir PNS agar mampu mengemban peran PNS yang bebas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Dengan merubah pola pikir diharapkan PNS mampu mengembangkan pola pikir yang positif dan mampu meminimalisasi pola pikir yang negatif karena pola pikir positif akan membentuk perilaku yang positif demikian pula pola pikir negatif akan membentuk perilaku yang negative. Perilaku yang positif akan berdampak positif terhadap pensuksesan tugas dan peranan PNS sebagai abdi Negara, abdi masyarakat dan pelayan masyarakat, sehingga akan terhindar dari KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Setiap saat kita dapat menentukan pilihan untuk merubah pola pikir apakah kita akan tetap dengan pola pikir yang positif atau pola pikir yang negatif.

Merubah cara pandang

Berpikir positif merupakan sikap mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran anda. Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya. Jadi berpikir positif juga merupakan sikap mental yang mengharapkan hasil yang baik serta menguntungkan.

Pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lakukan berakar dari cara kita melihat masalah karena itu, bila ingin mengubah nasib secara drastis, kita perlu melakukan  revolusi cara berpikir. Stephen Covey pernah mengatakan: “Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda, tapi bila Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda.” Covey benar, perubahan tidak selalu dimulai dari cara kita melihat (See). Ia bisa juga dimulai dari perilaku kita (Do). Namun, efeknya sangat berbeda. Cara kita melihat masalah sesungguhnya adalah masalah itu sendiri. Karena itu, untuk mengubah nasib, yang perlu Anda lakukan cuma satu: Ubahlah cara Anda melihat masalah. Mulailah melihat atasan yang otoriter, bawahan yang tak kooperatif, pelanggan yang cerewet dan pasangan yang mau menang  sendiri  sebagai tantangan dan rahmat yang terselubung. Orang-orang ini sangat  berjasa bagi Anda karena dapat membuat Anda lebih kompeten, lebih profesional, lebih arif dan lebih sabar.  “Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk bertumbuh.”

Hal ini merujuk pada apa yang disampaikan Apostle Paul “…whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, whatever is admirable—if anything is excellent or praiseworthy—think about such things” Yang berarti bahwa yang menentukan adalah bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya keberhasilan visi dan tujuan hidup kita. Proses pembelajaran diri selalu dimulai dari perumusan visi dan misi hidup. Dan inti dari self learning atau pembelajaran diri adalah pola pikir. Inilah yang akan memandu arah dan jalan keberhasilan kita. Inilah yang akan mengarahkan kemana tujuan kita dan menjadi seperti apakah kita nanti. Namun itu tidak cukup. Perlu sebuah mind set yang berkembang (growth mindset) yang akan menjadi katalisator dalam merespon setiap peluang, tantangan, dan perubahan dan mengubahnya menjadi sebuah proses  yang dijalankan dengan ketelatenan, usaha, dan komitmen yang kontinyu dan berkelanjutan, untuk menjadi berhasil, berkembang, dan berkualitas. Seseorang dengan mindset berkembang akan selalu memandang bahwa bakat, kecerdasan, dan kualitas adalah sesuatu yang bukan given (sudah ditetapkan), tetapi bisa diperoleh melalui upaya-upaya tertentu.

Kembali pada cerita mandi bersama diawal tulisan ini, dengan mendahulukan aspek “darurat” tentunya  tidak jauh beda dengan kondisi disaat kita harus makan didepan ponten. Disini tidak membicarakan soal hukum agama, apakah tindakan ini sah dilaksanakan atau tidak. Tetapi, asalkan kita tidak menggunakan imajinasi atau pola pikir negatif, tentunya kita akan dapat menikmatinya seperti halnya kegiatan lain yang kita kerjakan. Dan oleh karenanya kita akan berkembang sebagai pribadi yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Sumber gambar: http://www.pcbsdevlieger.nl/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s