Mengembangkan Harga Diri Siswa di Sekolah

“Everybody is a GENIUS. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is STUPID.” (Albert Einstein)

Einstein bukanlah seorang yang pandai disaat ia masih duduk dibangku sekolah, demikian pula Issac Newton. Keduanya sama-sama menjadi bahan ejekan hingga tertawaan siswa-siswa seusianya lantaran memperoleh nilai yang jelek disuatu ulangan harian untuk suatu mata pelajaran. Tetapi, kemudian hari ini dunia mengenal mereka sebagai seorang ilmuwan besar yang pemikiran dan postulatnya menjadi rujukan banyak akademisi diseluruh belahan dunia. Tentu disini terdapat kesenjangan antara pencapaian nilai disaat sekolah dengan keberhasilan pasca dewasa, atau ada diantara kita yang dengan tegas dapat menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan dalam dua hal tersebut.

Sejauh ini diakui atau tidak, sering kita begitu bangga pada pencapaian atas dasar nilai yang diberikan oleh orang lain. Sejak kecil, begitu pulang sekolah, ibu kadang bertanya, “Berapa nilai yang kamu dapat hari ini?” Jarang ada yang bertanya, “Apa yang kamu pelajari hari ini?”

Pencapaian kuantitatif itu membuat sang siswa berpikir bahwa bila nilainya bagus, ibunya akan senang. Bila nilainya bagus, ia berarti pintar. Maka logika menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang bagus itu menjadi wajar. Hasilnya, budaya menyontek merajalela dan ketika kunci-kunci jawaban disebarkan itu adalah sebuah bentuk pembenaran yang sah.

Seorang teman Kompasianer sempat menulis, kenangannya dimasa-masa SMP ketika hasil ujian dibagikan, dan pernah mendapatkan nilai 3,30 untuk nilai IPA, dan dengan usaha akhirnya saya mendapat nilai 6,30 di caturwulan berikutnya. Rasa mendapatkan nilai 6 dengan kemampuan sendiri sudah cukup membanggakan saat itu. barangkali kalau diterjemahkan ke dalam keadaan sekarang, nilai 6 sudah begitu hina. Dahulu nilai 8 yang termasuk amat sakral itu, kini sudah turut hina pula. Ini terbukti dikala ujian nasional SMA, saya hanya mendapatkan nilai 8,67 dan itu menjadi nilai terendah nomor dua di kelas selain seorang gadis berjilbab lebar yang menjunjung tinggi kejujuran mendapat nilai 6,00 sedang lainnya 9,3 ke atas meski dengan modal kunci jawaban dari guru.

Guru, Sekolah dan Konteks Kekinian

Melihat fakta ini saya sebagai guru sungguh tidak tahu apa yang dibanggakan dari nilai 9,3 palsu itu, sebab ketika SNMPTN datang mereka berguguran satu per satu. Dalam keadaan ini mau tidak mau kita telah menemukan bahwa siswa telah mengalami diorientasi tentang nilai yang seharusnya diperolehnya dengan kejujuran. Padahal dalam pendidikan karakter bagi guru maupun sekolah harus mampu membentuk karakter siswa dengan penanaman nilai-nilai sikap yang baik. Oleh karenanya, pola pikir instan yang berarti menghalalkan segalanya untuk mencapai apa yang dicitakan adalah sesuatu yang salah dan tidak boleh hadir dalam kehidupan sekolah.

Dunia datar yang dinyatakan oleh Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat merupakan interpretasi dari keadaan dunia yang mengglobal, yang dalam percakapannya dengan Nandan Nilekani menyatakan: “…global ekonomic playing field is being levelled”. Lebih jauh dimaknai dengan ’…the playing field is being levelled, …the world is being flattend’ . Globalisasi meratakan dunia dalam berbagai sektor kehidupan, dalam arti bahwa globalisasi telah meratakan lapangan bermain kompetitif antara negara industri dan negara berkembang.  Khususnya pengembangan sumber daya manusia India sudah menjadi rata dengan Amerika. Jika pada saat Colombus menjelajah Atlantik, orang India diasumsikan sebagai tenaga kerja murah dalam artian perbudakan, maka saat ini orang India menduduki jabatan penting dalam perusahaan multinasional.

Friedman menyatakan bahwa dunia menuntut tiga hal perubahan untuk dapat bertahan dan berkembang. Pertama adalah kesediaan untuk membagi pengetahuan dan pekerjaan. Kolaborasi pekerjaan tidak lagi mengenal jarak dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Hal yang kedua adalah inovasi dan adaptasi, dan yang ketiga adalah keterbukaan terhadap pertumbuhan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidangnya, khususnya dari  negara-negara berkembang. Amerika menginvestasikan pengembangan komputer di India karena karakter yang diharapkan memenuhi kriteria mereka.

Tony Wagner dalam Education Gap (2011) mengingatkan kita semua tentang 7 (tujuh) kemampuan yang harus dimiliki siswa dimasa depan, yaitu: Terampil berpikir kritis dan memecahkan masalah, Kolaborasi berbasis jaringan dan mengembangkan kemapuan memimpin yang berpengaruh, Mampu mengubah arah dan bergerak secara cepat dan efektif dan beradaptasi, Memiliki daya inisiatif dan berkewirausahaan, Bicara dan menulis secara efektif, Mengakses dan menganalisis informasi, dan Bersikap selalu ingin tahu dan berimajinasi.

Dalam tulisan tersebut Tony Wagner mengajak para guru untuk tidak melupakan peran pentingnya dalam menanamkan nilai kepada siswa. Hal ini dimulai dengan menjadikan guru sebagai contoh yang baik (rule of models) disini guru berfungsi sebagai “modeling” sikap bagi siswa. Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan ruang pengembangan minat dan bakat siswa seluas-luasnya. Guru dituntut untuk dapat berperan sebagai fasilitator sekaligus memonitoring penerapan nilai oleh siswa. Peran ini dikenal dengan istilah habituasi yang berarti pembiasaan dalam sikap dan perilaku. Apabila pembiasaan telah dilakukan maka pemeliharaan kebiasaan yang baik menjadi penting untuk dilakukan. Untuk itu peran guru sebagai agen “reinforcement nilai” menjadi peran terkhir yang tidak boleh tertinggal.

Apa yang digambarkan oleh Friedman juga sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Tony Wagner dalam bukunya The Global Achievement Gap tentang sistem pendidikan yang memerlukan perubahan dan inovasi.  Siswa tidak hanya dipersiapkan mampu mengerjakan soal, akan tetapi harus inovatif mengikuti perkembangan teknologi. Perancangan kurikulum pendidikan tidak lagi sebatas menguasai ketrampilan dan pengetahuan yang diajarkan oleh guru, akan tetapi harus dirancang sedemikian rupa sehingga kurikulum yang ada membangun karakter siswa mampu mengantisipasi kejadian masa datang. Pendidikan yang diajarkan oleh guru yang belajar di masa lampau haruslah visioner merancang kurikulum pendidikan manusia yang akan hidup dengan segala tantangan pada masa yang akan datang.

Mencermati peran guru tersebut mungkin kebanyakan kita akan bersikap pesimistis, namun sekolah sebagai gerbang pertama tempat kita melahir kader pemimpin bangsa masa depan tidak boleh menyerah. Viktor Frankl, seorang tawanan di dalam kamp konsentrasi selama Perang Dunia kedua, pernah berkata “Kami yang hidup dalam kamp konsentrasi bisa mengingat orang-orang yang berjalan dari barak ke barak menghibur sesama, memberikan kepingan roti mereka yang terakhir. Jumlah mereka boleh jadi sedikit; tetapi itu cukup membuktikan  bahwa segalanya bisa dirampas dari seorang manusia kecuali satu hal: kebebasan manusiawi yang terakhir – memilih sikap kita dalam setiap situasi yang bagaimana pun, memilih cara kita sendiri.”  (Man’s Search for Meaning). Pilihan proaktif dari sikap kita adalah “kebebasan manusiawi yang terakhir”. Itulah! Kebebasan menentukan pilihan! Oleh kebebasan manusiawi yang terakhir itu pulalah, Viktor Frankl berhasil menciptakan teori psikologinya: “Logoterapi”. Sebagai guru bagaimana kita bersikap terhadap keadaan yang terkesan tidak ideal menjadi tolok ukur keberhasilan kita, tidak terkecuali apa yang sudah kita bahas diawal tulisan ini.

Berfikir Out of The Box

Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah inovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif. Keluar dari “kotak” dan cobalah untuk melihat dari sudut pandang yang tidak biasa. Hal ini merupakan langkah pertama seorang guru untuk memulai perubahan. Guru harusmengingat kembali bahwa salah satu tujuan yang ingin dicapai pendidikan pastilah memiliki siswa dengan kemampuan yang serba bisa dan mandiri. Namun, salah satu syarat untuk memiliki siswa yang percaya diri dan bisa melakukan berbagai hal positif adalah adanya keyakinan dan kemauan siswa untuk mampu melakukan apa pun.

Harga diri atau biasa dikenal dengan istilah self-esteem, berarti bicara mengenai satu aspek dalam konsep diri yang menentukan akan berkembang menjadi individu seperti apakah siswa-siswa kita kelak. Self-esteem atau harga diri adalah penilaian seorang siswa tentang bagaimana dirinya di mata orang lain. Dalam beberapa literatur, juga digunakan istilah self-perception yang merupakan kumpulan dari keyakinan dan perasaan yang siswa miliki terhadap dirinya sendiri. Penilaian ini sangat berpengaruh pada perkembangan emosi, perilaku dan penyesuaian diri siswa di lingkungan sosial. Oleh karenanya ada beberapa pendapat yang mengklasifikasikan harga diri dalam dua hal, harga diri sehat dan tidak sehat.

Harga diri yang sehat dapat menjadi kekuatan bagi siswa untuk menghadapi tantangan dalam hidupnya. Siswa berpandangan positif tentang dirinya akan mudah mengatasi konflik dan tidak mudah tepengaruh oleh hal-hal negatif. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang optimis. Di sisi lain, siswa-siswa yang berpandangan negatif atau rendah pada diri mereka sendiri akan menemui rintangan dalam mengatasi masalah, menjadi pasif, menarik diri, mudah frustrasi dan tidak bahagia. Ketika dihadapkan tantangan, mereka mudah sekali untuk bilang ”tidak bisa”. Namun siswa yang terlalau memandang tinggi dirinya juga tidak berdampak baik. Mereka akan cenderung merasa paling baik, tidak mau dikalahkan dan meremehkan orang lain. Siswa semacam ini akan sulit untuk menerima kekalahan dan sulit beradaptasi yang membatasi keleluasaannya. Jadi harga diri yang sehat adalah harga diri yang dapat membekali siswa untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan dimana pun dia berada, tidak kurang atau berlebihan.

Suatu penelitian mengungkapkan bahwa siswa mendasari harga diri mereka pada dua hal, yaitu penerimaan (sejauh mana lingkungan khususnya orangtua menerima mereka apa adanya) dan kompetensi diri seperti ”Aku pandai” atau ”aku bisa lari kencang” (Verna Hildebrand dalam buku Guiding Young Children). Penelitian ini juga menemukan bahwa kebanyakan siswa yang punya harga diri positif ternyata memiliki orangtua dengan karakteristik yang sama, yaitu juga punya harga diri yang positif tentang diri mereka sebagai orangtua. Bahkan dari hasil penelitian di Amerika Serikat diperkirakan antara 15 – 50 persen anak berbakat berprestasi kurang (underachiever).  Pertanyaannya adalah “mengapa anak berprestasi di bawah kemampuannya?”

Banyak teori untuk menjelaskan kenapa anak berprestasi di bawah potensinya (uncerachiever).  Menurut Utami Munandar (2004), salah satu penyebabnya adalah latar belakang seorang, yang menyangkut rasa harga diri yang rendah.   Rasa harga diri yang rendah adalah ketidakpercayaan atas kemampuan yang dimiliki.  Mereka tidak percaya bahwa mereka mampu melakukan apa yang diharapkan orang tua dan guru dari mereka.  Untuk menutupi rasa harga diri mereka, biasanya dengan perilaku berani dan menentang atau dengan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri.  Misalnya dengan menyalahkan sekolah atau guru atau dengan menyatakan tidak peduli atau tidak berusaha dengan sungguh-sungguh jika prestasi mereka kurang memuaskan. Sering kita mendengar anak mengatakan “matematika memang susah”, hal ini karena berkaitan dengan rasa harga diri yang rendah sehingga untuk menutupi kegagalan mereka menyalahkan pelajaran matematika atau gurunya.  Menyalahkan pelajaran atau guru merupakan mekanisme anak untuk menghindari tanggung jawab untuk berprestasi.

Meski dalam penelitian tersebut terkesan peran dominan orang tua dalam membentuk harga diri siswa, namun dalam konteks pembelajaran disekolah guru memiliki peran dalam beberapa hal dasar. Peran ini meliputi; menemukan kemampuan unik siswa, mengapresiasi prestasi dan hasil kerja keras mereka, berfokus pada tindakan bukan penampilan, memuji siswa dengan spesifik dan tonjolkan sisi positif mereka, dan menghindari selalu membantu mereka dalam memecahkan masalahnya serta belajar dari kesalahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s