Beragama dengan Logika Kebersamaan

BersamaTulisan ini dimulai disaat demam piala dunia mencapai puncaknya, dan Jerman terpilih sebagai kontestan terbaik setelah menaklukkan Argentina. Meski beberapa waktu sebelumnya banyak logika pengamat bola mengatakan Jerman adalah tim yang layak menjadi juara. Penampilan yang konsisten menjadikan mereka adalah pemenang yang pantas, tim yang lebih baik. Namun tidak sedikit yang percaya pada fantasi dikaki Lionel Messi, hal yang sudah ditakdirkan hingga membawa negaranya Argentina memenangkan Piala Dunia.

 

Ditengah modernisasi dan globalisasi, tidak berfungsinya logika menjadi hal menarik. Padahal dari mereka yang tinggal dinegara barat sebagai pusat peradaban akal, yang sering terkesan sekuler. Keadaan ini membuat keinginan untuk melihat bagaimana keberagamaan Islam berlaku disana, obyek selanjutnya adalah Amerika Serikat sang negara adidaya. Keinginan ini terdorong sesaat menyaksikan pidato Ali Nourman Khan, sebuah perspektif baru tentang surat al fatihah disebuah media sosial youtube.

 

Sebuah hal yang tentu sangat berbeda dengan mayoritas yang terdapat dalam dakwah-dakwah Islam di Indonesia. Seperti kita tahu, logika berasal dari kata Yunani kuno logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat, sehingga terdapat kesan bahwa logika domain mereka yang ada diperguruan tinggi atau kalangan terpelajar yang jumlahnya terbatas.

 

Uwes Fatoni menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa warga New York menentangnya.

 

Perkembangan Islam juga bisa dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel “halal food”. Hampir di setiap pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.

 

Melalui video tersebut tampak bahwa dakwah yang dilakukan oleh Ali Nourman Khan penuh dengan logika rasionalitas dengan sedikit mengutip dalil atau ayat al quran. Ada sisi unik dari kegiatan dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif internal, tapi juga secara eksternal (outreach), yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Namun, tanpa disadari banyak pihak sebenarnya metode dakwah dengan logika adalah metode yang juga digunakan oleh para walisongo dari sekian metode dakwah yang digunakan.

 

Sejarah mencatat betapa dengan Sunan Kudus menyarankan untuk tidak menyembelih kerbau sekedar menghormati kaum Hindu waktu itu. Hingga pada akhirnya makanan khas Soto Kudus berbahan utama daging kerbau bukan daging sapi sebagaimana lazimnya masakan soto sejenis.

 

Atau coba kita tengok karya besar Sunan Kalijaga yang demikian apik menggubah wayang hindu menjadi wayang sesuai ajaran agama Islam yang hingga kini kita nikmati. Sungguh betapa logika keberagamaan untuk dapat hidup bersama dan mengajak pada kebaikan menjadi semangat utama, jauh dari pembenaran tindakan atau pengkafiran kelompok sebagaimana lazim kita jumpai hari ini.

 

Komitmen Pada Kebersamaan

Pakar psikologi mencatat bahwa kemampuan logika dibentuk dari pemahaman dan kemampuan berfikir kritis. Logika dalam beragama lahir dari kepekaan untuk menjawab realita bukan dalil Qur’an semata. Tetapi juga dengan membenamkan esensi syariah, al muhafadatu ala qodimu as sholih al ahdu bil jaded as sholih (melestarikan tradisi yang baik dan mengambil hal baik dari sesuatu yang baru). Sebuah yang tentu tidak mungkin dihasilkan dari pemahaman yang lemah dan kering, tetapi dari keluasan pengetahuan dan wawasan. Anda dapat melihat hal ini pada kemampuan beberapa tokoh seperti Gus Dur, Gus Mus dan lain-lain, yang terkenal dengan kemampuan pidato yang low kontek namun mengena dan padat makna. Menterjemahkan rahmatan lil alamin bukan sebatas lisan tetapi juga pada komitmen untuk hidup bersama sebagai umat Tuhan tanpa diskriminasi dan intimidasi.

 

Apa yang hadir hari ini adalah kelompok yang cenderung menggunakan dalul qur’an secara serampangan, hanya sekedar untuk menyalahkan atau membenarkan suatu kelompok. Bukankah tujuan dakwah harus berorientasi jangka panjang, untuk mengajak sebanyak-banyak orang ke jalan yang benar. Apakah mungkin dakwah yang penuh dengan peringatan dan dalil akan diterapkan oleh Rosullah dimasa-masa sulit dan sedikitnya kaum Islam Mekkah  waktu itu. Tapi dengan komitmen pada kebersamaan, sejarah pun mencatat Umar bin Khattab yang dulunya paling terdepan membeci Nabi menjadi khalifah dan pemimpin Islam yang paling disegani. Apakah ini bukan menjadi bukti untuk kita menjadi lebih korektif?

 

Untuk membangun komitmen kebersamaan, langkah awal yang perlu kita lakukan adalah menghapus dikotomi antara kafir dan bukan kafir, menggantinya sebagai saudara sebangsa namun bukan dengan maksud menyamakan agama atau ajaran. Membiasakan memandang persamaan yang menjadikan kita wakil Tuhan dibumi yang mensejahterakan dan memakmurkannya dengan kebajikan. Bukan dengan mempertajam perbedaan dan mempersalahkan sesama umat beragama. Memandang bahwa ada proses logika dalam beragama yang kita kenal dengan istilah hidayah, yang membutuhkan waktu dan ruang. 

 

Membesar ruhul dakwah, semangat untuk mengajak pada kebaikan warisan besar Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita tidak selalu menjawab pertanyaan hanya dengan dalil tetapi dengan logika yang sederhana, untuk meluruskan hal semestinya ada. Bukankah, agama Islam hadir dengan tujuan yang demikian. Tentu kita dapat belajar pada Tawakkul Karman, peraih Nobel Perdamaian 2011 dari Yaman, saat ditanya wartawan tentang jilbabnya, bagaimana hal itu tidak proporsional dengan tingkat kecerdasan dan pendidikannya, dia menjawab: “Manusia di zaman purba berpenampilan hampir telanjang, dan ketika intelektual berkembang, ia mulai menggunakan pakaian. Bagaimana saya saat ini, dan apa yang saya pakai merupakan tingkat tertinggi pemikiran dan peradaban yang sudah dicapai manusia, dan bukan kemunduran. Melepas pakaian lagi adalah kemunduran yang akan membawa kita ke masa lampau”. Dibagian akhir tulisan ini, sekarang bagian Anda untuk berpendapat tentang apa yang akan Anda lakukan selanjutnya. Semoga Allah memudahkan kita semua. Amien

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s