Politik Salon dan Demokrasi Artifisial

Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, hari ini kita disuguhkan sebentuk gaya komunikasi politik baru dinegeri ini. Kondisi dimana,para politisi berlomba membuat pernyataan bahwa dirinya tidak tahu dudukperkara apa-apa tapi dimaki-maki di media sosial. Di satu sisi dia menempatkan dirinya sebagai orang yang bermuka manis (dengan niat menipu) kepada warga(agar ia mendapatkan simpati dari warga), sementara di sisi lainnya iamenampilkan diri sebagai orang yang naif dan innocent. Permainan teater apalagiini? Tentu tidak salah karena politik sendiri adalah seni bagaimana mengelola kekuasaan dan untuk mencapainya.

Seluruh perilaku dan cara berpikir seperti yang ditunjukkan oleh politikus di atas, tanpa bisa dibantah lagi, adalah ciri-ciri pemimpinpolitik yang ditakutkan Soekarno akan menjangkiti pemimpin-pemimpin yangmengaku-aku sebagai perwakilan rakyat atau massa bawah. Enam puluh lima tahunyang lalu, lewat bukunya yang fenomenal berjudul Sarinah, Bung Karno telah mewanti-wanti agar politisi jangan sampai menjadi salon politikus.

“Salon politicus”, adalah istilah yang diperkenalkan Dr.Muhammad Amir pada tahun 1925, dalam sebuah buku bertajuk Bunga Rampai,Kumpulan Karangan yang Terbit Tahun 1923-1939. Tentang perilaku pejuang politik waktu itu yang berbicara dengan kata-kata manis, mencitrakan dirinya seorangpejuang keadilan, atau paling tidak mengatasnamakan rakyat. Mencitrakan diriuntuk terlihat cantik di depan kalayak, di depan massa pendengar yang memang sedang antusias pada politik. tetapi, tidak semua di antara kaum pergerakan itu,betul-betul “jang maoe memikoel konsekwensi dari kejakinannja”. Yaitu merekayang mau setia pada apa yang diucapkan. Mereka yang mau menanggung setiapkata-kata yang dikeluarkannya, bukan sekedar untuk mendongkrak citra dirinya didepan orang ramai. Di antara yang banyak itu, ada bergelimpangan oportunis-oportunis, yang memasuki kancah politik untuk “mengisi sakoe sendiri”, demikian tulis M. Amir.

Budaya atau Fenomena

Almarhum penyair WS. Rendra, di tahun 1980an, pernahmemperkenalkan sebuah istilah yang kemudian juga terkenal: ‘penyair salon’.Mereka, tulis Rendra dalam sebuah sajak, adalah penyair yang asyik-masyuk“bersajak tentang anggur dan rembulan” sementara melupakan realitas sosial yang buruk tempat di mana mereka berpijak. Penyair yang sibuk bersolek diri dengankeindahan kata-kata, tetapi tidak mau terlibat dalam kenyataan pahit darimasyarakatnya.

Menggunakan perspektif ini maka maraknya ‘politik salonkecantikan’ merupakan cermin menguatnya kerja-kerja sistem kaptalisme yang tujuan utamanya adalah mendapatkan kekuasaan belaka. Sehingga mengutipkata-kata filsuf Plato, bahwa politisi adalah moralis “pemintal kata-kata” yang tak hilang inspirasi, maka bagi aktor “politik salon kecantikan” ini politikdigunakan untuk mengekspresikan demokrasi dan aktualitas komunikasi politikdengan cara yang dangkal.

Hal ini tidak bisa kita lepaskan seiring menguatnya peranmedia, yang pada era demokrasi saat ini begitu luar biasa. Media akan selalumengungkap, dan memberitahukan kepada publik tentang apapun hal yang dilakukanoleh partai politik, maupun elite-nya. Dapat dikatakan pula bahwa media ibarat salon kecantikan, karena dapat mengubah seseorang yang hitam, menjadi terang benderang atau pun sebaliknya. Seseorang yang menjadi media darling apapun yang dilakukan menjadi benar. Yang nyata dan maya sudah menjadi satu.

Oleh karenanya, jauh-jauh hari Bung Karno sudah mengingatkan, agar “Janganlah menjadi salon politikus! Lebih dari separuhdaripada politisi kita adalah salon politisi yang mengenal Marhaen hanya dari sebutan saja. Politikus yang demikian itu sama dengan seorang jenderal tak bertentara. Kalau dia memberi komando, dia seperti orang berteriak di padang pasir.”

Pada gilirannya literasi politik dalam bentuk pendidikanpolitik kepada masyarakat menjadi penting dilakukan. Partai politik, anggotalegislatif dan lembaga pemerintah harus mengambil peran dalam membukakomunikasi politik yang lebih mencerdaskan. Mengingat dalam politik, pembentukanopini publik ini melibatkan banyak pihak sebagai penghubung antara kandidatpolitik dengan konstituennya, salah satunya ialah media yang selama inidiyakini sebagai the builder of public opinion. Brian McNair juga menekankanbahwa pada era saat ini politik mengalami metamorfosis. McNair menyebutnya dengan istilah era politik yang menggunakan media atau politics in the age of mediation.

Popularitas ini menuntut para kandidat untuk menampilkanidentitasnya selaras dengan ‟selera publik‟. Namun jangan dengan menampilkan sesuatu yang menurut Eric Louw (2005) sebut hype, sebagai yang secara harfiah dimaknai sebagai sesuatu yang sifatnya melebih-lebihkan. Sebab dalam peranapapun parlemen adalah habitat yang harus dekat dengan problematika rakyat. Pilihan atas nilai-nilai ideal menjadikan politikus pejuang, tak sibuk memikirkan segala hal artifisial: gaya, penampilan, citra, kekayaan, dan hedonisme.Kesederhanaan dan kewajaran jadi cakrawala. Kesantunan berperilaku jadi langgam interaksi sosial. Kejujuran dan ketulusan jadi napas hidup. Etika dan moralitasjadi panduan pikiran dan tindakan. Keberhasilan mengangkat rakyat dari lautanlumpur penderitaan adalah pamrihnya, seperti cita-cita priayi dalam novel Para Priyayi Umar Kayam.

Bekerja berbeda dengan mencipta. Bekerja menghasilkan kerajinan. Mencipta melahirkan berbagai kemungkinan dari yang semula tidak ada jadi ada. Mencipta berarti juga bereksplorasi dan berinovasi. Pejuang politikmenciptakan sesuatu berdasarkan ideologi, komitmen, integritas, dan kapabilitas. Panggilan berpolitiknya adalah dedikasi atas kemanusiaan,kemasyarakatan, dan cita-cita membangun peradaban negara-bangsa.Sehingga perludidukung dengan kerja-kerja nyata dari para wakil yang memiliki mandat rakyat untuk melaksanakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s